Kepulauan Seribu semakin menarik untuk tujuan wisata. Jika berkunjung ke Pula Sepa, sambil berwisata di pantainya, kita juga bisa banyak belajar tentang kehidupan dan pelestarian penyu.

Wisatawan di Pulau Sepa, Kepulauan Seribu (Foto: Imam)
Pekan ini di sebuah televisi swasta, saya melihat tayangan menarik tentang wisata pantai Pulau Sepa di Kepulauan Seribu. Di tayangan itu, Pulau Sepa bahkan disebut sebagai “Pulau Bali kecil”. Bukan karena memiliki banyak pura–rumah ibadat bagi umat Hindu—-pulau ini lalu disebut “Bali kecil”, tetapi karena fasilitasnya.
Wisatawan bisa menikmati berbagai fasilitas seperti jika berada di Bali. Selain menginap di cottage pinggir pantai, kita bisa bersenang-senang mencoba berbagai jenis olahraga air, menyelam, atau snorkeling untuk menikmati keindahan dasar laut.
Tayangan itu mengingatkan Saya saat mengunjungi pulau itu beberapa tahun lalu. Saya ingat, Saya berangkat ke pulau itu pada sebuah Sabtu yang cerah. Sebelum Saya bercerita tentang pulau itu, mungkin ada baiknya Saya ceritakan juga perjalanan menuju kesana, karena ada beberapa hal menarik selama di perjalanan.
Pagi-pagi sekitar pukul 7 Saya sudah ikut rombongan kumpul di dermaga 19 pantai Marina Jaya Ancol, untuk menghadiri sebuah acara di Pulau Sepa. Karena banyaknya anggota rombongan, panitia menggunakan tiga speedboat. Saya dan seorang teman fotografer, Imam namanya, ikut di rombongan pertama dengan speedboat “Sepa Paradise 1″ yang bermesin 200 PK. Dua speedboat lain menyusul di belakang.
Saya juga ingat setelah 30 menit perjalanan, meski di tengah laut, makin banyak pemandangan yang bisa dilihat. Misalnya, sampah yang berserakan di mana-mana. Sungguh menyebalkan. Bekas botol air mineral, plastik-plastik pembungkus, dan ban bekas, terapung-apung di laut yang biru.
Tiba-tiba, mesin boat macet. “Ada gangguan?” kata sejumlah penumpang saat itu. Rupanya, ada sampah yang tersangkut di baling-baling speedboat. Si pengemudi malah tenang-tenang saja. Dia tampak terbiasa dengan gangguan seperti itu.
“Dekat Teluk Jakarta masih banyak sampah, kejadian seperti ini sudah biasa,” ujar seorang awak kapal. Hah? Saya tidak tahu, apakah saat ini sampah masih banyak mengapung di laut Teluk Jakarta, moga-moga saja pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menangani hal itu.
Sekitar 20 mil perjalanan dari Pantai Marina, mulai terlihat pulau-pulau yang termasuk dalam jajaran Kepulauan Seribu. Di kiri speedboat tampak tiga pulau berjajar. Ada Pulau Pramuka, Panggang, dan Karya.
Pulau Karya terlihat paling kecil di antara ketiganya. “Pulau Karya isinya cuma kuburan, tidak ada penduduknya. Beda dengan Pulau Pramuka dan Panggang, ada penduduk,” ujar Abdul Gani, anggota Polisi Hutan yang ikut dalam rombongan kami.
Sekitar pukul 09.06, kami kembali melewati jajaran pulau di sebelah kiri speedboat kami. Ada Pulau Semut, Pulau Kelapa, dan paling utara adalah Pulau Pemegarang. Yang terkecil adalah Pulau Semut, karena ukurannya yang kecil.
Dari dalam boat terlihat beberapa rumah penduduk di Pulau Kelapa. Di Kepulauan Seribu, Pulau Kelapa merupakan salah satu pulau berpenghuni, di samping tiga pulau lain, Pulau Pramuka, Panggang, dan Sebira.
Ketika melewati ketiga pulau itu, tampak pula daerah bernama Gosong Kelapa. Dinamakan Gosong, karena dangkal dan dasarnya berupa karang laut. Gosong Kelapa dasarnya menyatu dengan Pulau Kelapa. Karena dangkal, beberapa nelayan yang sedang mengambil karang, tampak seperti “berdiri” di tengah laut.
Menurut Abdul Gani, nelayan mengambil karang dan batu untuk digunakan sebagai bahan bangunan. “Kalau terus menerus diambil, karang di sini bisa habis,” kata Gani, yang saat itu bertugas sebagai pengawas kelestarian alam di Kepulauan Seribu.
Selain daerah Gosong Kelapa, ada daerah sejenis yang bernama Karang Lebar. Sayang, dalam perjalanan itu, Saya tidak melewati daerah tersebut.
Sekitar pukul 09.14, kami kembali disuguhkan pemandangan menarik. Di sebelah kanan tampak Pulau Belanda, yang tidak terlalu besar, tapi ditumbuhi pepohonan lebat. “Pulau Belanda berada di zona inti tiga, yaitu pulau yang tidak boleh sembarangan dimasuki karena untuk tempat perkembangbiakan penyu alami,” ujar Gani.
Semakin ke Utara, di samping Pulau Belanda tampak pulau-pulau lain, seperti Pulau Matahari, Angin, serta Petondan Timur dan Petondan Barat. Menjelang Pulau Sepa, di sebelah kanan terdapat sebuah pulau lagi, Pulau Pelangi yang juga digunakan untuk resor wisata.
***
Pukul 09.30 tepat, kami merapat di dermaga Pulau Sepa. Dari jauh saya sempat memandang Pulau Sepa,
pulau resor wisata yang indah, dengan pepohonan rimbun dan pantai biru jernih. Di antara pulau-pulau di Kepulauan Seribu, Pulau Sepa memang termasuk yang terjauh.
Di akhir pekan, Pulau Sepa cukup ramai dikunjungi wisatawan. Penginapan seringkali terisi penuh. “Di antara pulau yang lain, Pulau Sepa termasuk favorit, karena pemandangannya indah dan teduh,” kata seorang pengunjung.
Mereka melakukan berbagai aktivitas di sana, ada yang berenang di pantai berair jernih, bermain perahu, juga snorkeling. Saking jernihnya air di pulau ini, dasarnya sampai terlihat. Sayang, banyak terumbu karang yang sudah rusak, sehingga mengurangi keindahan.
Resor wisata Pulau Sepa ini memiliki berbagai fasilitas, seperti penginapan yang dibangun dari kayu dan diberi nama-nama hewan laut, seperti Flipper (lumba-lumba). Di pulau ini juga terdapat rumah makan dengan sarana hiburan. “Hiburan musik ada setiap Sabtu dan Minggu, saat banyak-banyaknya pengunjung,” ujar salah seorang penjaga resor.
Nah, ini dia yang menarik. Selain untuk wisata, ternyata oleh Pemerintah Provinsi DKI, pulau ini juga telah ditetapkan sebagai salah satu lokasi penangkaran penyu, khususnya penyu sisik (hawksbill turtle) yang tergolong langka.
Di Pulau Sepa, telur-telur penyu baru dijaga kondisinya sampai menetas. Setelah dua bulan atau setelah
telur menetas, tukik atau anak penyu tidak langsung dilepas, melainkan dipelihara lebih dulu di kolam-kolam pemeliharaan hingga usia tertentu.
Menurut Benny Jaya, yang saat itu menjadi konsultan pelestarian penyu Pulau Sepa, jika telur-telur tidak dijaga kondisinya, ada kemungkinan tidak dapat menetas menjadi tukik. Oleh sebab itu, perlindungan terhadap penyu harus dimulai saat masih telur.
Penetasan anak-anak penyu tersebut menjadi atraksi tersendiri. Setelah menetas, secara alami mereka akan langsung menuju ke laut. “Tetapi mereka tidak akan dibiarkan lepas begitu saja, karena cangkangnya masih lunak, di laut nanti bisa dimangsa oleh ikan-ikan yang lebih besar,” jelasnya.
Populasi penyu di dunia kurang lebih ada tujuh spesies. Enam spesies atau sekitar 90 persen tersebar di wilayah perairan Sumatera hingga Irian Jaya. Dari jumlah itu, konon dua spesies atau 30 persennya terkonsentrasi di Kepulauan Seribu, terutama di sekitar Pulau Sepa. “Jadi, Pulau Sepa sangat potensial dijadikan tempat pelestarian dan penangkaran penyu di Kepulauan Seribu,” kata Benny.
Pulau Sepa memiliki kondisi alam yang sesuai dengan kebiasaan penyu sisik ketika bertelur. Saat akan bertelur, penyu sisik selalu mencari tempat agak tertutup. “Penyu sisik tidak mau tempat terbuka, tapi tempat yang agak tertutup dan bersemak,” ujarnya.
Di pulau itu, kondisi alamnya cukup teduh dan sebagian bersemak, sehingga sangat cocok untuk tempat berkembang biak jenis penyu ini. Saat bertelur, penyu sisik betina ditemani si pejantan, dan langsung meninggalkannya saat proses selesai.
Setelah menetas itulah, anak penyu dipelihara hingga usia tertentu, sebelum akhirnya dilepas. Ada kolam khusus penangkaran dan pemeliharaan penyu-penyu sisik. “Sekali bertelur, jumlahnya bisa 80 sampai 200 butir,” ujar Kartoubi alias Abu, salah seorang pegawai penangkaran. Anak-anak penyu itu dipisah-pisahkan dalam kolam yang berbeda berdasarkan usianya.
Menurut Benny, ada enam spesies penyu yang hidup di Indonesia, yakni jenis penyu pipih, penyu
belimbing, penyu lekang, penyu tempayan, penyu hijau, dan penyu sisik. Semuanya dalam kondisi kritis dan perlu dijaga kelestariannya agar tidak punah. Spesies yang hidup di Kepulauan Seribu adalah penyu sisik dan penyu hijau, yang banyak diburu orang tak bertanggungjawab.
Perburuan itu dilakukan karena orang-orang mencari cangkangnya yang indah. Cangkang penyu sisik berbentuk susun genteng (ered molis imbricata) berwarna cokelat mengkilat. Orang-orang tak bertanggungjawab banyak memburunya untuk mengambil cangkangnya, dijual untuk hiasan rumah. Sedangkan penyu hijau, banyak diburu orang untuk dikonsumsi karena dagingnya enak.
Bestari Barus, yang saat itu menjabat manajer Balai Konservasi Sumber Daya Alam Pulau Sepa, menambahkan bahwa penyu-penyu yang dilepas tersebut tidak begitu saja dibiarkan. Meski sudah dewasa, mereka tetap diawasi di wilayah perairan maupun pesisir. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar jangan sampai ada perburuan terhadap penyu-penyu itu oleh oknum tidak bertanggungjawab.
Menurut Bestari, pengawasan tidak hanya terhadap kelestarian penyu, tapi juga pada terumbu karang yang ada di perairan Kepulauan Seribu. “Saat ini di Kepulauan Seribu, terumbu karang tinggal beberapa persen saja,” katanya.
Banyak orang mengambil terumbu karang untuk dijadikan hiasan aquarium. Selain itu, nelayan yang memburu ikan dengan menggunakan bom dan potas juga secara langsung merusak kelestarian terumbu karang.
Selain sebagai tempat hidup ikan-ikan kecil, pada terumbu karang juga menempel sponge, sejenis makhluk hidup yang menjadi makanan penyu sisik. Selain memakan sponge, penyu sisik juga memakan ikan-ikan kecil dan beberapa jenis tumbuhan laut.
Oleh sebab itu, pelestarian terumbu karang juga berkaitan erat dan sangat berpengaruh terhadap pelestarian penyu sisik di Kepulauan Seribu. “Jika terumbu karang dapat dilindungi, ikan menjadi banyak, maka penyu-penyu dapat hidup dengan selamat,” papar Benny.
Tetapi, usaha pelestarian penyu dan terumbu karang di wilayah Kepulauan Seribu tidak dapat berlangsung efektif tanpa peran serta dari masyarakat setempat. “Seringkali oknum-oknum tak bertanggungjawab dari masyarakat setempat yang kurang mengerti, sehingga masih memburu penyu dan merusak lingkungan sekitarnya, dengan alasan pemenuhan kebutuhan ekonomi,” ujar Bestari.
Saat mengunjungi Pulau Sepa itu, Saya tidak cuma menikmati berbagai fasilitas wisata disana, tetapi juga banyak belajar tentang hewan langka yang harus dilindungi itu.
Dimas Adityo



info yang menarik.
Tambahan info tentang kepulauan seribu, dapat mengunjungi http://indonesia-travel-guide.com/Jakarta_Travel_Guide/Thousand_Islands/Thousand_Island_Guide.html