<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Catatan Perjalananku</title>
	<atom:link href="http://dimasadityo.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dimasadityo.wordpress.com</link>
	<description>Apa yang Kulihat, Dengar dan Rasakan...</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 10:02:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dimasadityo.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Catatan Perjalananku</title>
		<link>http://dimasadityo.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dimasadityo.wordpress.com/osd.xml" title="Catatan Perjalananku" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dimasadityo.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Rafting, Rafting, Rafting!!</title>
		<link>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/11/21/rafting-rafting-rafting/</link>
		<comments>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/11/21/rafting-rafting-rafting/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Nov 2008 13:09:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dimasadityo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Penelusuran Sungai]]></category>
		<category><![CDATA[arus liar]]></category>
		<category><![CDATA[rafting]]></category>
		<category><![CDATA[sungai citarik]]></category>
		<category><![CDATA[wisata arung jeram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dimasadityo.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Menelusuri jeram-jeram Sungai Citarik di Sukabumi, Jawa Barat, akan terasa lebih “nikmat” di musim hujan. Apalagi jika memilih rute terpanjang, sejauh 13 kilometer. Kita tak perlu khawatir selama mengikuti prosedur standar keselamatan. Musim hujan tiba. Seorang teman bertanya, di musim hujan seperti sekarang, enaknya outing kemana di akhir minggu? Tanpa memberi pilihan lain, Saya langsung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dimasadityo.wordpress.com&amp;blog=4009263&amp;post=97&amp;subd=dimasadityo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Menelusuri jeram-jeram Sungai Citarik di Sukabumi, Jawa Barat, akan terasa lebih “nikmat” di musim hujan. Apalagi jika memilih rute terpanjang, sejauh 13 kilometer. Kita tak perlu khawatir selama mengikuti prosedur standar keselamatan. </strong></p>
<div id="attachment_98" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/foto-arung-jeram2.jpg"><img class="size-full wp-image-98" title="foto-arung-jeram2" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/foto-arung-jeram2.jpg?w=500&#038;h=359" alt="Arus Liar/ Dok.Dimas)" width="500" height="359" /></a><p class="wp-caption-text">Tim Tempo menjajal jeram-jeram Sungai Citarik, sepanjang 13 km (Foto: Arus Liar/ Dok.Dimas)</p></div>
<p>Musim hujan tiba. Seorang teman bertanya, di musim hujan seperti sekarang, enaknya outing kemana di akhir minggu? Tanpa memberi pilihan lain, Saya langsung menjawab pertanyaan teman yang memang hobby ngeluyur itu. “Rafting!”</p>
<p>Ya, rafting di Sungai Citarik! Selain tidak terlalu jauh dijangkau dari Jakarta, di musim hujan, debit air sungai ini akan meningkat. Bagi yang menyukai olah raga petualangan, rafting atau ber-arung jeram di sungai yang lebih deras, tentu akan terasa lebih nikmat.</p>
<p><span id="more-97"></span></p>
<p>Sudah beberapa kali Saya menjajal jeram-jeram sungai ini. Daripada saat musim kemarau, rafting di musim penghujan, jauh lebih sensasional! Di musim hujan pula bersama sejumlah teman dari Jakarta, Saya pernah mencoba rute terjauh yang ditawarkan pengelola arung jeram sungai ini, sejauh 13 kilometer.</p>
<p>Saya menjajal rute terjauh itu sekitar empat tahun lalu. Hari sudah siang, dan hujan deras baru mengguyur kawasan Kecamatan Cikidang, Sukabumi ketika itu. Mendung pun masih menggayut. Namun, cuaca yang kurang bersahabat justru tak menghalangi niat kami melintasi Sungai Citarik, yang memang kesohor dengan olahraga arung jeram itu.</p>
<p>Kami tentu harus mempersiapkan segala sesuatunya lebih matang, sebelum perahu karet berwarna merah yang kami naiki bersama seorang juru mudi, mulai meliuk-liuk di antara jeram-jeram Sungai Citarik. Air sungai tergolong sedang tinggi, sekitar 100 centimeter. Dalam ukuran olahraga arung jeram, ketinggian air seperti itu tergolong grade-tiga atau sedang.</p>
<p>Salah satu jeram yang kami temui di awal pengarungan adalah “Jeram Walk Away&#8221;. Juru mudi yang mengendalikan perahu kami sebelumnya sudah mengingatkan untuk ektra hati-hati saat melintasi jeram ini. Sebenarnya jeram ini tergolong biasa saja, banyak dijumpai di sungai-sungai yang digunakan untuk kegiatan pengarungan.</p>
<p>Batu besar di kiri dan kanan jeram. Di tengah kedua batu inilah perahu harus melintas. Ternyata, jeram yang &#8220;biasa saja&#8221; ini menyimpan tantangan pertama. Perahu kami terjepit di antara batu-batu besar itu. Tak ayal, derasnya arus air langsung tumpah ke dalam perahu, membuat perahu semakin terbenam kedalam air.</p>
<p>Semua orang dalam perahu, langsung berpegangan erat di tali yang mengelilingi perahu bermerek &#8220;Base Marine&#8221; itu. Wajah tegang langsung nampak di setiap anggota rombongan, tak terkecuali Nanang, sang juru mudi. Namun ketegangan itu tak berlangsung lama.</p>
<p>Dengan cepat, perahu &#8220;Tim Rescue&#8221; langsung mendekat ke perahu kami. Regu penolong yang mendampingi kami sejak awal pengarungan, langsung sigap melemparkan tali untuk menarik perahu kami dari jepitan “Jeram Walk Away&#8221;. Teman-teman yang satu perahu dengan saya, tiga orang di antaranya wanita langsung berteriak. &#8220;Fiuuh, gile! seru juga ya!,&#8221; ujar seorang teman.</p>
<p>Usai melintas jeram itu, perahu yang kami naiki kembali melesat diantara jeram-jeram &#8220;seru&#8221; lainnya. Perahu lain di belakang kami juga mengalami hal serupa, bahkan nyaris terbalik. Tapi, bukannya wajah-wajah panik yang tampak di antara mereka, penumpang perahu itu yang juga teman-teman sekantor Saya, justru bersorak kegirangan. &#8220;Lagi!, lagi!,&#8221; teriak mereka ketagihan dengan atraksi yang baru saja mereka alami.</p>
<p>Panik, tegang, tapi asyik dan nikmat, bercampur baur. Hal biasa yang bakal kita alami di Citarik. Sungai di wilayah Sukabumi, Jawa Barat ini memang sudah ngetop di kalangan petualang dan pencinta alam. Apalagi sungai ini memiliki karakteristik ideal untuk berarung jeram. Terdapat puluhan jeram yang tergolong besar, sebagian di antaranya diberi nama-nama unik.</p>
<p>Karena itulah, di sini ada lima perusahaan operator arung jeram yang mengelola program wisata penelusuran sungai. Nama-nama operator arung jeram itu sebagian juga sudah dikenal, seperti &#8220;Arus Liar&#8221;, &#8220;BJ&#8217;S&#8221;, &#8220;C-Raft&#8221;, &#8220;Arbis&#8221; dan &#8220;Selaras&#8221;. Selain arung jeram, di tempat ini juga terdapat berbagai program wisata petualangan dan outbond.</p>
<p>Saat itu, kami menggunakan operator &#8220;Arus Liar&#8221;. Selain sudah mengenal cara kerja operator ini, pendiri</p>
<div id="attachment_106" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotoarusliar00081.jpg"><img class="size-medium wp-image-106" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotoarusliar00081.jpg?w=300&#038;h=198" alt="Dimas)" width="300" height="198" /></a><p class="wp-caption-text">Jalan setapak menuju Nusa Traditional Cottage (Foto: Dimas)</p></div>
<p>dan salah seorang pemiliknya, Lody Korua, merupakan orang pertama yang &#8220;membuka&#8221; sungai Citarik untuk olahraga pengarungan sungai. Lody juga melengkapi wisata arung jeram-nya itu dengan penginapan bergaya desa bagi para tamu yang ingin menginap.</p>
<p>Nusa Traditional Cottage, penginapan dengan suasana pedesaan itu, terletak di tengah dua pecahan aliran sungai Citarik. Tidak ada listrik disini, benar-benar seperti di pedesaan. Jika malam tiba, penginapan berbentuk saung dari kayu dan bambu itu diterangi lampu minyak dan petromaks. Untuk masuk ke kawasan Nusa Traditional Cottage, kita harus melalui jembatan gantung yang menghubungkan ke Desa Cigelong,  tak jauh dari “Pendopo Arus Liar.”</p>
<p>***</p>
<p>Nah, karena Saya sudah mengenal baik Lody, si pendiri “Arus Liar”, dan menimbang “Arus Liar” sudah “menguasai” Sungai Citarik dengan lebih baik, kami akhirnya memilih operator ini. Malah, Lody, &#8220;rafter&#8221; yang namanya sangat dikenal di dunia petualangan di Indonesia itu, ikut mendampingi kami mengarungi rute terpanjang sungai ini, sepanjang 13 kilometer selama kurang lebih tiga jam.</p>
<p>Perjalanan dimulai dari &#8220;Pendopo Arus Liar&#8221; yang terletak di kecamatan Cikidang, Sukabumi. Lokasinya</p>
<div id="attachment_107" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotoarusliar00061.jpg"><img class="size-medium wp-image-107" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotoarusliar00061.jpg?w=300&#038;h=197" alt="Dimas)" width="300" height="197" /></a><p class="wp-caption-text">Nusa Traditional Cottage, penginapan bernuansa pedesaan (Foto: Dimas)</p></div>
<p>tepat berada di tepi Sungai Citarik. Tempat ini merupakan titik pemberangkatan pengarungan sungai yang diprogramkan &#8220;Arus Liar&#8221;.</p>
<p>Di tempat ini pula kami memilih dan menyiapkan peralatan yang akan kita pakai dalam pengarungan sungai, seperti jaket pelampung, helm dan dayung. Sebelum berangkat, juru mudi akan memberi pengarahan singkat, seperti bagaimana cara mendayung dan bagaimana prosedur keselamatan dalam berarung jeram.</p>
<p>Sepanjang 13 kilometer pengarungan sungai Citarik, kami menemukan sejumlah jeram yang nama-namanya sudah cukup dikenal. Jeram-jeram itu diberi nama berdasarkan kejadian yang pernah dialami di tempat itu. Jeram pertama adalah &#8220;Jeram TVRI&#8221;. Kenapa dinamakan demikian, karena di jeram inilah seorang kameramen TVRI yang sedang berarung jeram sempat jatuh pingsan.</p>
<p>Pasalnya, saat melintas jeram dan perahu yang ditumpanginya terbalik, kameramen ini sempat tenggelam di bawah perahu lantaran sibuk mempertahankan kamera-nya yang terikat di badannya. &#8220;Padahal, sebelumnya kami sudah memperingatkan dia untuk melepas saja kamera-nya,&#8221; kata Lody mengenang.</p>
<p>Tidak jauh dari &#8220;Jeram TVRI&#8221;, ada &#8220;Jeram Golden Gate&#8221;. Di sebelah kiri dan kanan jeram ini terdapat dua buah batu besar menyerupai gerbang atau &#8220;gate&#8221;. Untuk melintas jeram yang berada di tengahnya cukup sulit lantaran ruang yang tersedia sangat sempit. Kabarnya, tidak sedikit perahu yang hampir terbalik di sini. Di kalangan juru mudi, yang dengan lancar membawa tamu melintas jeram ini diberi &#8220;poin emas&#8221;.</p>
<p>Jeram berikutnya adalah &#8220;Jeram Zig-zag&#8221;. Kondisi jeram di sini mengharuskan jurumudi harus</p>
<div id="attachment_101" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotojembatan.jpg"><img class="size-medium wp-image-101" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotojembatan.jpg?w=300&#038;h=161" alt="Dimas)" width="300" height="161" /></a><p class="wp-caption-text">Jembatan gantung yang melintasi Sungai Citarik (Foto: Dimas)</p></div>
<p>mengendalikan perahunya dengan cara &#8220;zig-zag&#8221;. Biasanya, saat melewati jeram ini jurumudi akan membuat atraksi perahu &#8220;dipentokkan&#8221; ke batu.</p>
<p>Ada pula &#8220;Jeram Jumping Jack Flash&#8221;. Di masa awal pengarungan Sungai Citarik, perahu yang melewati jeram ini, juru mudinya selalu terlempar atau &#8220;jumping&#8221; ke arah depan melewati perahu. &#8220;Dari kejadian itu, setiap jurumudi pasti akan masuk ke perahu atau berpegangan kencang kalau melewati jeram ini,&#8221; ujar Lody.</p>
<p>Setelah itu, baru “Jeram Walk Away&#8221;, tempat dimana perahu kami sempat terjepit di antara batu. Pada saat membawa sebuah rombongan, Lody mengisahkan, semua perahu yang melintas jeram ini terbalik karena kondisi air yang cukup besar. Pengarungan pun dihentikan saat itu juga. Semua perahu langsung menepi. Rombongan terpaksa jalan kaki atau &#8220;Walk&#8221;, balik ke pendopo melintasi kebun dan sawah penduduk di tepi sungai.</p>
<p>Tak kalah seru, jeram yang akan kami lewati setelah itu adalah &#8220;Jeram Big Z&#8221; dan &#8220;Jeram Panjang&#8221;. Jeram Big Z, karena bentuk alur sungainya seperti huruf &#8220;Z&#8221; berukuran besar. Karena bentuknya seperti huruf Z itulah, pada saat menikung di jeram ini, perahu selalu terbentur dinding-dinding batuan yang berada di tepi sungai.</p>
<p>Seru! Setelah itu kita akan melewati Jeram Panjang. Dinamakan Jeram Panjang karena sepanjang 200</p>
<div id="attachment_103" class="wp-caption alignright" style="width: 221px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotoarusliar0011.jpg"><img class="size-medium wp-image-103" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotoarusliar0011.jpg?w=211&#038;h=300" alt="Dimas)" width="211" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Peta rute arung jeram di Pendopo Arus Liar (Foto: Dimas)</p></div>
<p>meter, kita akan melewati puluhan jeram-jeram berukuran kecil. Saat kami melintas jeram ini, dua buah perahu penolong yang sudah lebih dulu berada di depan, menepikan perahunya di sisi kiri dan kanan sungai.</p>
<p>Hal ini, menurut Lody, untuk mengantisipasi kemungkinan perahu terbalik. &#8220;Kalau terbalik di jeram ini, regu penolong harus segera menolong tamu, karena nggak mungkin orang yang jatuh ke sungai harus berenang sampai sejauh 200 meter, kasihan, bisa terbentur-bentur batu,&#8221; kata Lody.</p>
<p>Setengah perjalanan, &#8220;Jeram Pyramid&#8221; menghadang di depan mata. Jeram ini termasuk berbahaya, karena di sisi kiri dan kanan-nya terhampar batu besar mirip &#8220;Pyramid&#8221;. Batuan ini terkadang &#8220;menjepit&#8221; perahu karet atau bikin perahu terbalik.</p>
<p>Setelah Jeram Pyramid, disusul &#8220;Jeram Dinamit&#8221;. Dinamakan demikian, karena dulunya, di jeram ini terdapat batu besar yang dapat menghalangi jalannya perahu. Setelah memperoleh ijin kiri-kanan, termasuk dari warga setempat, batu besar ini kemudian dihancurkan menjadi pecahan-pecahan kecil menggunakan dinamit.</p>
<p>Sekitar 4 kilometer menjelang titik akhir, peserta akan melintasi &#8220;Jeram Nia Daniaty&#8221;. Jeram ini sebenarnya</p>
<div id="attachment_104" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotoarusliar00101.jpg"><img class="size-medium wp-image-104" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotoarusliar00101.jpg?w=300&#038;h=213" alt="Arus Liar/Dok.Dimas)" width="300" height="213" /></a><p class="wp-caption-text">Sungai Citarik, dan Nusa Traditional Cottage dari ketinggian (Foto: Arus Liar/Dok.Dimas)</p></div>
<p>biasa-biasa saja. Tak ada penghalang berarti. Tapi, di jeram ini sekitar tahun 1996, perahu yang ditumpangi artis penyanyi lagu-lagu melankolis itu pernah terbalik. Untuk mengenang kejadian tersebut, namanya diabadikan di jeram ini.</p>
<p>Usai Jeram Nia, muncul &#8220;Jeram Danramil&#8221;. Mirip dengan jeram sebelumnya, di jeram ini, perahu yang ditumpangi Komandan Rayon Militer (Danramil) setempat, pernah terbalik. Sang Danramil yang baru pertama kali mencoba beraung jeram di sungai itu pun ikut tercebur ke sungai.</p>
<p>Selanjutnya, jeram terakhir yang harus dilalui dalam rute terpanjang pengarungan sungai Citarik adalah &#8220;Jeram Good Bye&#8221;. Menggunakan label Good Bye, karena setelah jeram ini, tidak ada jeram lagi. Permukaan sungai berangsur-angsur datar karena mulai mendekati muara sungai, menuju pantai selatan di Pelabuhan Ratu.</p>
<p>Mendekati titik akhir, pemandangan alam yang terhidang semakin mempesona. Bukit-bukit, sawah dan ladang penduduk terhampar luas di kiri dan kanan sungai. Di kejauhan, terlihat beberapa perkampungan penduduk. Tak jarang saat melintas, kita akan menemui warga setempat yang sedang asyik mencuci, memancing, dan bahkan mandi di tepi sungai.</p>
<p>Tak terasa, saat itu tiga jam Saya dan rombongan mengarungi sungai Citarik sepanjang 13 kilometer. Dari titik start di Pendopo Arus Liar, akhirnya kami sampai di titik akhir pengarungan di desa Cikadu, kurang lebih tiga kilometer dari pantai Pelabuhan Ratu. Sungai Citarik ini memang bermuara di situ. Namun, sebelum bermuara di Laut Selatan, Citarik menyatu dengan induknya: Sungai Cimandiri.</p>
<p>Setelah mendengar cerita Saya ini, teman Saya yang bertanya  outing kemana enaknya di musim hujan,</p>
<div id="attachment_105" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotoarusliar.jpg"><img class="size-medium wp-image-105" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotoarusliar.jpg?w=300&#038;h=197" alt="Dimas)" width="300" height="197" /></a><p class="wp-caption-text">Hiburan musik tradisional sunda di Nusa Traditional Cottage, benar-benar suasana pedesaan (Foto: Dimas)</p></div>
<p>langsung merencanakan rafting di Sungai Citarik. Ayo, rafting, rafting, rafting!!<br />
<strong>Dimas Adityo</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dimasadityo.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dimasadityo.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dimasadityo.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dimasadityo.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dimasadityo.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dimasadityo.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dimasadityo.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dimasadityo.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dimasadityo.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dimasadityo.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dimasadityo.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dimasadityo.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dimasadityo.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dimasadityo.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dimasadityo.wordpress.com&amp;blog=4009263&amp;post=97&amp;subd=dimasadityo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/11/21/rafting-rafting-rafting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a8f86fddfedbb998954e2fc9f1c5466?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">dimasadityo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/foto-arung-jeram2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">foto-arung-jeram2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotoarusliar00081.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotoarusliar00061.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotojembatan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotoarusliar0011.jpg?w=211" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotoarusliar00101.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Arus Liar/Dok.Dimas)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/fotoarusliar.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ke Pulau Seribu Yuk..</title>
		<link>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/11/17/ke-pulau-seribu-yuk/</link>
		<comments>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/11/17/ke-pulau-seribu-yuk/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 11:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dimasadityo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Kepulauan seribu]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Ayer]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Bidadari]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Kotok]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Matahari]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Pelangi]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Putri]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Sepa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dimasadityo.wordpress.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Anda ingin berwisata ke Kepulauan Seribu, tetapi tidak tahu harus berangkat darimana? Mungkin Saya bisa memberi sedikit tips. Untuk mengunjungi pulau-pulau yang secara administratif masuk dalam wilayah Provinsi DKI ini, sebenarnya mudah saja. Caranya, tinggal datang ke pantai Marina di kompleks Taman Impian Jaya Ancol. Tempat itu merupakan dermaga pemberangkatan ke pulau-pulau di kawasan tersebut. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dimasadityo.wordpress.com&amp;blog=4009263&amp;post=93&amp;subd=dimasadityo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda ingin berwisata ke Kepulauan Seribu, tetapi tidak tahu harus berangkat darimana? Mungkin Saya bisa memberi sedikit tips. Untuk mengunjungi pulau-pulau yang secara administratif masuk dalam wilayah Provinsi DKI ini, sebenarnya mudah saja.</p>
<p><span id="more-93"></span></p>
<p>Caranya, tinggal datang ke pantai Marina di kompleks Taman Impian Jaya Ancol. Tempat itu merupakan dermaga pemberangkatan ke pulau-pulau di kawasan tersebut. Di pantai Marina terdapat pusat informasi dan pelayanan wisata Kepulauan Seribu. Di sini juga ada agen-agen wisata yang siap mengantar wisatawan menikmati wisata di Kepulauan Seribu.</p>
<p>Agen-agen itu menawarkan berbagai fasilitas di resor-resor wisata di beberapa pulau yang bisa dikunjungi dan sudah tersedia fasilitas wisatanya. Seperti Pulau Bidadari, Ayer, Kulkul, Kotok, Kelapa, Putri, Bira, Pelangi, Sepa, Matahari, dan Pantara.</p>
<p>Pulau-pulau di kawasan ini indah dan masih alami, dengan airnya yang jernih, sehingga pengunjung bisa berenang, snorkeling, dan melakukan olahraga air lainnya. Jangan khawatir soal fasilitas. Berbagai sarana tersedia, mulai dari penginapan, rumah makan hingga arena hiburan.</p>
<p>Untuk berkunjung ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu, tarifnya berbeda-beda. Untuk ke Pulau Bidadari, misalnya, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari pantai Marina Ancol, tentu harga yang ditawarkan lebih murah ketimbang jika ke Pulau Sepa yang lebih jauh. Anda bisa mengambil paket satu hari (<em>one day trip</em>), atau paket menginap.</p>
<p>Sebelum berkunjung ke Kepulauan Seribu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar perjalanan Anda terasa menyenangkan.</p>
<p><strong>1. Pilih waktu yang tepat.</strong><br />
Untuk berkunjung ke Kepulauan Seribu, akan lebih baik bila memilih waktu bukan musim penghujan. Saat musim hujan, air laut seringkali pasang, sehingga makin tinggi pula resiko menyeberang laut dengan speedboat. Selain itu, saat hujan tentu Anda tidak bisa leluasa menikmati acara di pantai.</p>
<p><strong>2. Tentukan pulau yang akan dikunjungi.</strong><br />
Sebelum berangkat ke Kepulauan Seribu, hendaknya tentukan dulu tujuan Anda. Pastikan pulau mana yang akan dikunjungi dan pertimbangkan dana yang dimiliki. Besar biaya ditentukan berdasarkan jarak pulau dari pantai Marina Ancol yang menjadi tempat pemberangkatan, dan fasilitas yang kita pilih. Jika dilihat jaraknya, paling murah tentunya Pulau Bidadari, sedangkan termahal adalah Pulau Sepa dan Pantara.</p>
<p><strong>3. Transportasi.</strong><br />
Untuk mencapai pulau-pulau di Kepulauan Seribu, beberapa agen wisata menyediakan berbagai jenis kapal cepat (<em>speedboat</em>). Jenis kapal ini mempunyai daya tampung berbeda-beda. Jadi, jangan lupa, tanyakan kapasitas penumpangnya. Peralatan keamanan standar pelayaran juga harus sesuai dengan jumlah penumpang. Misalnya, pelampung.</p>
<p><strong>4. Bawalah perlengkapan yang sesuai. </strong><br />
Di Kepulauan Seribu, kita pasti akan lebih sering beraktivitas di pantai, di mana sinar matahari langsung menerpa tubuh. Oleh sebab itu, bawalah perlengkapan renang, krim pelindung kulit, dan obat-obatan pribadi lainnya.</p>
<p><strong>Semoga berguna..</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dimasadityo.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dimasadityo.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dimasadityo.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dimasadityo.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dimasadityo.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dimasadityo.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dimasadityo.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dimasadityo.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dimasadityo.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dimasadityo.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dimasadityo.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dimasadityo.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dimasadityo.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dimasadityo.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dimasadityo.wordpress.com&amp;blog=4009263&amp;post=93&amp;subd=dimasadityo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/11/17/ke-pulau-seribu-yuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a8f86fddfedbb998954e2fc9f1c5466?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">dimasadityo</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Di Pulau Sepa, Tak Sekadar Wisata</title>
		<link>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/11/17/di-pulau-sepa-tak-sekadar-wisata/</link>
		<comments>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/11/17/di-pulau-sepa-tak-sekadar-wisata/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 10:11:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dimasadityo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laut dan Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Kepulauan seribu]]></category>
		<category><![CDATA[penangkaran penyu]]></category>
		<category><![CDATA[Penyu sisik]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Sepa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dimasadityo.wordpress.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Kepulauan Seribu semakin menarik untuk tujuan wisata. Jika berkunjung ke Pula Sepa, sambil berwisata di pantainya, kita juga bisa banyak belajar tentang kehidupan dan pelestarian penyu. Pekan ini di sebuah televisi swasta, saya melihat tayangan menarik tentang wisata pantai Pulau Sepa di Kepulauan Seribu. Di tayangan itu, Pulau Sepa bahkan disebut sebagai “Pulau Bali kecil”. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dimasadityo.wordpress.com&amp;blog=4009263&amp;post=82&amp;subd=dimasadityo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kepulauan Seribu semakin menarik untuk tujuan wisata. Jika berkunjung ke Pula Sepa, sambil berwisata di pantainya, kita juga bisa banyak belajar tentang kehidupan dan pelestarian penyu. </strong></p>
<div id="attachment_84" class="wp-caption alignnone" style="width: 510px"><img class="size-full wp-image-84" title="14-perj11" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/14-perj11.jpg?w=500&#038;h=326" alt="Imam)" width="500" height="326" /><p class="wp-caption-text">Wisatawan di Pulau Sepa, Kepulauan Seribu (Foto: Imam)</p></div>
<p>Pekan ini di sebuah televisi swasta, saya melihat tayangan menarik tentang wisata pantai Pulau Sepa di Kepulauan Seribu. Di tayangan itu, Pulau Sepa bahkan disebut sebagai “Pulau Bali kecil”. Bukan karena memiliki banyak pura&#8211;rumah ibadat bagi umat Hindu—-pulau ini lalu disebut “Bali kecil”, tetapi karena fasilitasnya.</p>
<p>Wisatawan bisa menikmati berbagai fasilitas seperti jika berada di Bali. Selain menginap di cottage pinggir pantai, kita bisa bersenang-senang mencoba berbagai jenis olahraga air, menyelam, atau <em>snorkeling</em> untuk menikmati keindahan dasar laut.</p>
<p>Tayangan itu mengingatkan Saya saat mengunjungi pulau itu beberapa tahun lalu. Saya ingat, Saya berangkat ke pulau itu pada sebuah Sabtu yang cerah. Sebelum Saya bercerita tentang pulau itu, mungkin ada baiknya Saya ceritakan juga perjalanan menuju kesana, karena ada beberapa hal menarik selama di perjalanan.</p>
<p><span id="more-82"></span></p>
<p>Pagi-pagi sekitar pukul 7 Saya sudah ikut rombongan kumpul di dermaga 19 pantai Marina Jaya Ancol, untuk menghadiri sebuah acara di Pulau Sepa. Karena banyaknya anggota rombongan, panitia menggunakan tiga <em>speedboat</em>. Saya dan seorang teman fotografer, Imam namanya, ikut di rombongan pertama dengan speedboat &#8220;Sepa Paradise 1&#8243; yang bermesin 200 PK. Dua <em>speedboat</em> lain menyusul di belakang.</p>
<p>Saya juga ingat setelah 30 menit perjalanan, meski di tengah laut, makin banyak pemandangan yang bisa dilihat. Misalnya, sampah yang berserakan di mana-mana. Sungguh menyebalkan. Bekas botol air mineral, plastik-plastik pembungkus, dan ban bekas, terapung-apung di laut yang biru.</p>
<p>Tiba-tiba, mesin boat macet. &#8220;Ada gangguan?&#8221; kata sejumlah penumpang saat itu. Rupanya, ada sampah yang tersangkut di baling-baling <em>speedboat</em>. Si pengemudi malah tenang-tenang saja. Dia tampak terbiasa dengan gangguan seperti itu.</p>
<p>&#8220;Dekat Teluk Jakarta masih banyak sampah, kejadian seperti ini sudah biasa,&#8221; ujar seorang awak kapal. Hah? Saya tidak tahu, apakah saat ini sampah masih banyak mengapung di laut Teluk Jakarta, moga-moga saja pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah menangani hal itu.</p>
<p>Sekitar 20 mil perjalanan dari Pantai Marina, mulai terlihat pulau-pulau yang termasuk dalam jajaran Kepulauan Seribu. Di kiri <em>speedboat</em> tampak tiga pulau berjajar. Ada Pulau Pramuka, Panggang, dan Karya.</p>
<p>Pulau Karya terlihat paling kecil di antara ketiganya. &#8220;Pulau Karya isinya cuma kuburan, tidak ada penduduknya. Beda dengan Pulau Pramuka dan Panggang, ada penduduk,&#8221; ujar Abdul Gani, anggota Polisi Hutan yang ikut dalam rombongan kami.</p>
<p>Sekitar pukul 09.06, kami kembali melewati jajaran pulau di sebelah kiri <em>speedboat</em> kami. Ada Pulau Semut, Pulau Kelapa, dan paling utara adalah Pulau Pemegarang. Yang terkecil adalah Pulau Semut, karena ukurannya yang kecil.</p>
<p>Dari dalam boat terlihat beberapa rumah penduduk di Pulau Kelapa. Di Kepulauan Seribu, Pulau Kelapa merupakan salah satu pulau berpenghuni, di samping tiga pulau lain, Pulau Pramuka, Panggang, dan Sebira.</p>
<p>Ketika melewati ketiga pulau itu, tampak pula daerah bernama Gosong Kelapa. Dinamakan Gosong, karena dangkal dan dasarnya berupa karang laut. Gosong Kelapa dasarnya menyatu dengan Pulau Kelapa. Karena dangkal, beberapa nelayan yang sedang mengambil karang, tampak seperti “berdiri” di tengah laut.</p>
<p>Menurut Abdul Gani, nelayan mengambil karang dan batu untuk digunakan sebagai bahan bangunan. &#8220;Kalau terus menerus diambil, karang di sini bisa habis,&#8221; kata Gani, yang saat itu bertugas sebagai pengawas kelestarian alam di Kepulauan Seribu.</p>
<p>Selain daerah Gosong Kelapa, ada daerah sejenis yang bernama Karang Lebar. Sayang, dalam perjalanan itu, Saya tidak melewati daerah tersebut.</p>
<p>Sekitar pukul 09.14, kami kembali disuguhkan pemandangan menarik. Di sebelah kanan tampak Pulau Belanda, yang tidak terlalu besar, tapi ditumbuhi pepohonan lebat. &#8220;Pulau Belanda berada di zona inti tiga, yaitu pulau yang tidak boleh sembarangan dimasuki karena untuk tempat perkembangbiakan penyu alami,&#8221; ujar Gani.</p>
<p>Semakin ke Utara, di samping Pulau Belanda tampak pulau-pulau lain, seperti Pulau Matahari, Angin, serta Petondan Timur dan Petondan Barat. Menjelang Pulau Sepa, di sebelah kanan terdapat sebuah pulau lagi, Pulau Pelangi yang juga digunakan untuk resor wisata.</p>
<p>***</p>
<p>Pukul 09.30 tepat, kami merapat di dermaga Pulau Sepa. Dari jauh saya sempat memandang Pulau Sepa,</p>
<div id="attachment_86" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/14-perj21.jpg"><img class="size-medium wp-image-86" title="14-perj21" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/14-perj21.jpg?w=300&#038;h=201" alt="Imam)" width="300" height="201" /></a><p class="wp-caption-text">Dermaga Pulau Sepa (Foto: Imam)</p></div>
<p>pulau resor wisata yang indah, dengan pepohonan rimbun dan pantai biru jernih. Di antara pulau-pulau di Kepulauan Seribu, Pulau Sepa memang termasuk yang terjauh.</p>
<p>Di akhir pekan, Pulau Sepa cukup ramai dikunjungi wisatawan. Penginapan seringkali terisi penuh. &#8220;Di antara pulau yang lain, Pulau Sepa termasuk favorit, karena pemandangannya indah dan teduh,&#8221; kata seorang pengunjung.</p>
<p>Mereka melakukan berbagai aktivitas di sana, ada yang berenang di pantai berair jernih, bermain perahu, juga <em>snorkeling</em>. Saking jernihnya air di pulau ini, dasarnya sampai terlihat. Sayang, banyak terumbu karang yang sudah rusak, sehingga mengurangi keindahan.</p>
<p>Resor wisata Pulau Sepa ini memiliki berbagai fasilitas, seperti penginapan yang dibangun dari kayu dan diberi nama-nama hewan laut, seperti <em>Flipper</em> (lumba-lumba). Di pulau ini juga terdapat rumah makan dengan sarana hiburan. &#8220;Hiburan musik ada setiap Sabtu dan Minggu, saat banyak-banyaknya pengunjung,&#8221; ujar salah seorang penjaga resor.</p>
<p>Nah, ini dia yang menarik. Selain untuk wisata, ternyata oleh Pemerintah Provinsi DKI, pulau ini juga telah ditetapkan sebagai salah satu lokasi penangkaran penyu, khususnya penyu sisik (<em>hawksbill turtle</em>) yang tergolong langka.</p>
<p>Di Pulau Sepa, telur-telur penyu baru dijaga kondisinya sampai menetas. Setelah dua bulan atau setelah</p>
<div id="attachment_87" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/14-perj3.jpg"><img class="size-medium wp-image-87" title="14-perj3" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/14-perj3.jpg?w=300&#038;h=198" alt="Imam)" width="300" height="198" /></a><p class="wp-caption-text">Penangkaran penyu di Pulau Sepa. Tukik di pelihara sampai siap dilepas ke laut (Foto: Imam) </p></div>
<p>telur menetas, tukik atau anak penyu tidak langsung dilepas, melainkan dipelihara lebih dulu di kolam-kolam pemeliharaan hingga usia tertentu.</p>
<p>Menurut Benny Jaya, yang saat itu menjadi konsultan pelestarian penyu Pulau Sepa, jika telur-telur tidak dijaga kondisinya, ada kemungkinan tidak dapat menetas menjadi tukik. Oleh sebab itu, perlindungan terhadap penyu harus dimulai saat masih telur.</p>
<p>Penetasan anak-anak penyu tersebut menjadi atraksi tersendiri. Setelah menetas, secara alami mereka akan langsung menuju ke laut. &#8220;Tetapi mereka tidak akan dibiarkan lepas begitu saja, karena cangkangnya masih lunak, di laut nanti bisa dimangsa oleh ikan-ikan yang lebih besar,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Populasi penyu di dunia kurang lebih ada tujuh spesies. Enam spesies atau sekitar 90 persen tersebar di wilayah perairan Sumatera hingga Irian Jaya. Dari jumlah itu, konon dua spesies atau 30 persennya terkonsentrasi di Kepulauan Seribu, terutama di sekitar Pulau Sepa. &#8220;Jadi, Pulau Sepa sangat potensial dijadikan tempat pelestarian dan penangkaran penyu di Kepulauan Seribu,&#8221; kata Benny.</p>
<p>Pulau Sepa memiliki kondisi alam yang sesuai dengan kebiasaan penyu sisik ketika bertelur. Saat akan bertelur, penyu sisik selalu mencari tempat agak tertutup. &#8220;Penyu sisik tidak mau tempat terbuka, tapi tempat yang agak tertutup dan bersemak,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Di pulau itu, kondisi alamnya cukup teduh dan sebagian bersemak, sehingga sangat cocok untuk tempat berkembang biak jenis penyu ini. Saat bertelur, penyu sisik betina ditemani si pejantan, dan langsung meninggalkannya saat proses selesai.</p>
<p>Setelah menetas itulah, anak penyu dipelihara hingga usia tertentu, sebelum akhirnya dilepas. Ada kolam khusus penangkaran dan pemeliharaan penyu-penyu sisik. &#8220;Sekali bertelur, jumlahnya bisa 80 sampai 200 butir,&#8221; ujar Kartoubi alias Abu, salah seorang pegawai penangkaran. Anak-anak penyu itu dipisah-pisahkan dalam kolam yang berbeda berdasarkan usianya.</p>
<p>Menurut Benny, ada enam spesies penyu yang hidup di Indonesia, yakni jenis penyu pipih, penyu</p>
<div id="attachment_88" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/14-perja.jpg"><img class="size-medium wp-image-88" title="14-perja" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/14-perja.jpg?w=300&#038;h=198" alt="Imam)" width="300" height="198" /></a><p class="wp-caption-text">Penyu sisik, hewan langka yang harus dilindungi (Foto: Imam)</p></div>
<p>belimbing, penyu lekang, penyu tempayan, penyu hijau, dan penyu sisik. Semuanya dalam kondisi kritis dan perlu dijaga kelestariannya agar tidak punah. Spesies yang hidup di Kepulauan Seribu adalah penyu sisik dan penyu hijau, yang banyak diburu orang tak bertanggungjawab.</p>
<p>Perburuan itu dilakukan karena orang-orang mencari cangkangnya yang indah. Cangkang penyu sisik berbentuk susun genteng (<em>ered molis imbricata</em>) berwarna cokelat mengkilat. Orang-orang tak bertanggungjawab banyak memburunya untuk mengambil cangkangnya, dijual untuk hiasan rumah. Sedangkan penyu hijau, banyak diburu orang untuk dikonsumsi karena dagingnya enak.</p>
<p>Bestari Barus, yang saat itu menjabat manajer Balai Konservasi Sumber Daya Alam Pulau Sepa, menambahkan bahwa penyu-penyu yang dilepas tersebut tidak begitu saja dibiarkan. Meski sudah dewasa, mereka tetap diawasi di wilayah perairan maupun pesisir. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar jangan sampai ada perburuan terhadap penyu-penyu itu oleh oknum tidak bertanggungjawab.</p>
<p>Menurut Bestari, pengawasan tidak hanya terhadap kelestarian penyu, tapi juga pada terumbu karang yang ada di perairan Kepulauan Seribu. &#8220;Saat ini di Kepulauan Seribu, terumbu karang tinggal beberapa persen saja,&#8221; katanya.</p>
<p>Banyak orang mengambil terumbu karang untuk dijadikan hiasan aquarium. Selain itu, nelayan yang memburu ikan dengan menggunakan bom dan potas juga secara langsung merusak kelestarian terumbu karang.</p>
<p>Selain sebagai tempat hidup ikan-ikan kecil, pada terumbu karang juga menempel sponge, sejenis makhluk hidup yang menjadi makanan penyu sisik. Selain memakan sponge, penyu sisik juga memakan ikan-ikan kecil dan beberapa jenis tumbuhan laut.</p>
<p>Oleh sebab itu, pelestarian terumbu karang juga berkaitan erat dan sangat berpengaruh terhadap pelestarian penyu sisik di Kepulauan Seribu. &#8220;Jika terumbu karang dapat dilindungi, ikan menjadi banyak, maka penyu-penyu dapat hidup dengan selamat,&#8221; papar Benny.</p>
<p>Tetapi, usaha pelestarian penyu dan terumbu karang di wilayah Kepulauan Seribu tidak dapat berlangsung efektif tanpa peran serta dari masyarakat setempat. &#8220;Seringkali oknum-oknum tak bertanggungjawab dari masyarakat setempat yang kurang mengerti, sehingga masih memburu penyu dan merusak lingkungan sekitarnya, dengan alasan pemenuhan kebutuhan ekonomi,&#8221; ujar Bestari.</p>
<p>Saat mengunjungi Pulau Sepa itu, Saya tidak cuma menikmati berbagai fasilitas wisata disana, tetapi juga banyak belajar tentang hewan langka yang harus dilindungi itu.<br />
<strong>Dimas Adityo</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dimasadityo.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dimasadityo.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dimasadityo.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dimasadityo.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dimasadityo.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dimasadityo.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dimasadityo.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dimasadityo.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dimasadityo.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dimasadityo.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dimasadityo.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dimasadityo.wordpress.com/82/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dimasadityo.wordpress.com/82/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dimasadityo.wordpress.com/82/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dimasadityo.wordpress.com&amp;blog=4009263&amp;post=82&amp;subd=dimasadityo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/11/17/di-pulau-sepa-tak-sekadar-wisata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a8f86fddfedbb998954e2fc9f1c5466?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">dimasadityo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/14-perj11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">14-perj11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/14-perj21.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">14-perj21</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/14-perj3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">14-perj3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/11/14-perja.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">14-perja</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Cerita Tentang Lahore</title>
		<link>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/09/05/sebuah-cerita-tentang-lahore/</link>
		<comments>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/09/05/sebuah-cerita-tentang-lahore/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 11:30:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dimasadityo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Luar Negeri]]></category>
		<category><![CDATA[1566]]></category>
		<category><![CDATA[Akbar Khan]]></category>
		<category><![CDATA[Allamah Muhammad Iqbal]]></category>
		<category><![CDATA[Aurangzeb Alamgiri]]></category>
		<category><![CDATA[Dinasti Mughal di abad ke-16]]></category>
		<category><![CDATA[Fort Lahore]]></category>
		<category><![CDATA[kekaisaran Moghul]]></category>
		<category><![CDATA[Lahore]]></category>
		<category><![CDATA[Loh]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid Badshahi]]></category>
		<category><![CDATA[Mughal]]></category>
		<category><![CDATA[Pasar Anarkali]]></category>
		<category><![CDATA[Provinsi Punjab]]></category>
		<category><![CDATA[Pusat kebudayaan Pakistan]]></category>
		<category><![CDATA[putra Rama]]></category>
		<category><![CDATA[Raja]]></category>
		<category><![CDATA[Royal Fort]]></category>
		<category><![CDATA[Shah Jahan]]></category>
		<category><![CDATA[sirwal-qamis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dimasadityo.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Pekan ini Pakistan menggelar pemilihan presiden menyusul mundurnya Presiden Pervez Musharraf pertengahan bulan lalu. Lagi-lagi sejarah politik negeri sahabat itu tercoreng. Rabu 3 September 2008 lalu, rombongan mobil Perdana Menteri Yusuf Raza Gilani dihujani tembakan oleh sekelompok orang. Beruntung, ia luput dari percobaan pembunuhan karena sang PM ternyata tak berada di mobil mercedes hitam yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dimasadityo.wordpress.com&amp;blog=4009263&amp;post=69&amp;subd=dimasadityo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pekan ini Pakistan menggelar pemilihan presiden menyusul mundurnya Presiden Pervez Musharraf</p>
<div id="attachment_70" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0481.jpg"><img class="size-medium wp-image-70" title="dscf0481" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0481.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas, 2007)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Warga Lahore di depan Masjid Badshahi (Foto: Dimas, 2007)</p></div>
<p>pertengahan bulan lalu. Lagi-lagi sejarah politik negeri sahabat itu tercoreng. Rabu 3 September 2008 lalu, rombongan mobil Perdana Menteri Yusuf Raza Gilani dihujani tembakan oleh sekelompok orang.</p>
<p>Beruntung, ia luput dari percobaan pembunuhan karena sang PM ternyata tak berada di mobil mercedes hitam yang ditembaki. Tak heran, memang, sejarah politik Pakistan diwarnai kekerasan dan lumuran darah. Desember 2007 lalu, mantan PM Benazir Bhutto juga tewas oleh serangan bom bunuh diri. Cerita tentang Pakistan ini mengingatkan saya saat mengunjungi negara itu menjelang akhir tahun 2007.</p>
<p><span id="more-69"></span></p>
<p>Saat itu suhu politik Pakistan juga sedang panas karena mendekati pemilihan umum legislatif. Berita-berita serangan bom terngiang di telinga sebelum saya menginjakkan kaki di negara ini. Termasuk di Lahore, kota yang saya kunjungi. Tapi meski sedang rawan, saya sempat mengelilingi kota budaya yang ternyata sangat unik ini. Berikut, cerita tentang kota itu :</p>
<p><strong>Satu Ahad di Badshahi</strong></p>
<div id="attachment_71" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0477.jpg"><img class="size-full wp-image-71" title="dscf0477" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0477.jpg?w=500&#038;h=375" alt="Dimas)" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">Megahnya kompleks Masjid Badshahi atau Masjid Raja (Foto: Dimas)</p></div>
<p>Selamat datang ke Lahore, kota di perbatasan dua negeri. Inilah Jantung Pakistan&#8211;begitulah julukannya&#8211;yang berdebur di antara India dan Pakistan. Jauh di masa lampau, ibu negeri Provinsi Punjabi itu adalah bagian dari satu imperium Hindu yang masyhur. Islam mulai masuk ke kota itu ketika Qutub-ud-din Aibak menjadi Raja Lahore pada 1206, sekaligus menjadi sultan muslim pertama di anak benua Asia itu.</p>
<p>Warna Islam terbentang dengan jaya di seluruh kota. Kubah-kubah masjid menyembul dengan perkasa. Pemandangan itu terpapar di hadapan saya ketika menginjak Lahore menjelang akhir tahun 2007 lalu. Syed Aftab Mehdi, warga Islamabad yang menemani saya berkeliling Lahore, langsung memberi nasihat gratis: “Masjid Badshahi wajib ditengok selama Anda di sini.”</p>
<p>Maka, pada Ahad siang itu, kami langsung menuju ke Badshahi sebelum melihat-lihat bagian kota lain. Taman rimbun menghiasi halaman depan. Ratusan pria berkerumun di gerbang utama. Sebagian tengah bercengkerama, yang lain antre menitipkan alas kaki sebelum salat dzuhur.</p>
<p>Saya dan Syed Aftab duduk-duduk di taman, menikmati lengkung-lengkung</p>
<div id="attachment_72" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0478.jpg"><img class="size-medium wp-image-72" title="dscf0478" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0478.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Masjid dengan dominasi warna merah yang dikelilingi taman (Foto: Dimas)</p></div>
<p>bangunan yang indah. Kami menyaksikan kaum pria lalu-lalang berbalut sirwal-qamis, celana panjang gombrong dan baju selutut. Saya terkenang pada sejarah lama yang pernah ditulis tentang kota tua ini. Tentang legenda Lahore yang didirikan 4.000 tahun silam oleh Loh, putra Rama, lakon utama dalam epik Hindu, Ramayana. Tapi, para arkeolog menemukan bahwa kota ini sesungguhnya baru berumur 2.000 tahun.</p>
<p>Mereka juga menemukan reruntuhan candi agung dekat pelabuhan yang dipersembahkan untuk kekasih Shinta itu. Menjadi ibu kota tradisional Punjab selama ribuan tahun, kota ini menjadi pusat kebudayaan India Utara, dari Peshawar hingga New Delhi. Fairuz Subakir, seorang mahasiswa program doktor asal Indonesia yang sudah enam tahun tinggal di Lahore ini, kemudian menuturkan, jejak-jejak Hindu harus dilihat dalam kehidupan sosial setempat. Umpamanya, penggolongan kelas atau kasta yang masih ketat berlaku pada sejumlah kalangan.</p>
<p>Dalam hal pernikahan juga masih kerap terjadi pihak wanitalah yang melamar. Pria idaman harus “dibeli” dengan mahar yang amat mahal. “Untuk orang yang tidak kaya saja maharnya bisa sampai 13 lak atau 1,3 juta rupee Pakistan,” Fairuz menceritakan pernikahan tetangganya. Bila dirupiahkan senilai hampir Rp 190 juta. Bukan jumlah yang sedikit bagi masyarakat kebanyakan di negara dengan pendapatan per kapita US$ 700 (sekitar Rp 6,3 juta) itu. Urusan perkastaan ini, kata Fairuz, juga muncul dengan kuat dalam hubungan sosial. Si kaya yang menggelar pesta tak akan mengundang tetangganya yang hidup dalam kekurangan.</p>
<p>Pandangan saya kembali tertuju ke masjid yang didominasi warna merah bata itu. Selain megah, masjid di lahan seluas sembilan hektare ini amat indah, bertabur ukiran dan ornamen cantik di setiap sisi tembok. Tiga kubah besar berwarna putih tampak agung. Delapan menara setinggi 60 meter terlihat gagah di berbagai sudut kota.</p>
<p>Inggris, yang menjajah Lahore pada 1849, patut mendapatkan ucapan terima kasih untuk berbagai</p>
<div id="attachment_73" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0465.jpg"><img class="size-medium wp-image-73" title="dscf0465" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0465.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Royal Fort atau Fort Lahore yang letaknya berhadapan dengan Masjid Badshahi (Foto: Dimas)</p></div>
<p>peninggalan tua nan penuh sejarah. Di antaranya bungalow dan kebun-kebun peninggalan Dinasti Mughal di abad ke-16, salah satu puncak paling cemerlang dalam sejarah Lahore. Di permukiman warga Inggris di Lahore di masa lalu, bungalow bercat putih dengan kebun yang luas menjadi wilayah tercantik di Pakistan.</p>
<p>Di depan kompleks masjid terdapat taman yang asri. Di tengahnya ada makam penyair Islam terkemuka Allamah Muhammad Iqbal, yang setiap hari diziarahi. Iqbal inilah yang mencetuskan ide pembentukan Pakistan sebagai sebuah negara Islam, terpisah dari India. Sebagai penghargaan, makamnya diukir dengan gaya arsitektur afgan dan moorish yang dibangun dengan batu merah khusus dari Rajasthan.</p>
<p>Kompleks Masjid Badshahi atau Masjid Raja menjadi salah satu obyek wisata budaya favorit bagi warga setempat maupun para turis. Masjid itu dibangun pada 1673 di masa pemerintahan Aurangzeb Alamgiri, raja keenam kekaisaran Moghul. Badshahi kini jadi masjid terbesar kedua di Pakistan setelah Masjid Faisal di Islamabad, ibu kota negara. Kemegahan arsitekturnya mirip Masjid Jama di New Delhi, India, yang dibangun pada 1648 oleh ayah Aurangzeb, Shah Jahan.</p>
<p>Badshahi, seperti lazimnya masjid di Lahore, tidak punya tempat salat untuk wanita. Ini jelas agak  berbeda dari kebiasaan atau kultur Islam. Menurut Fairuz, itu karena kehidupan masyarakat Pakistan yang agak ekstrem dalam menerapkan syariat, misalnya soal kewajiban wanita untuk selalu taat kepada laki-laki. Akibatnya, tumbuh norma-norma tak tertulis dalam kehidupan sosial, seperti larangan bagi wanita untuk melakukan berbagai kegiatan di luar rumah termasuk ke masjid. “Ini memang tidak murni Islam,” kata Fairuz.</p>
<p>Hal ini juga dipengaruhi karakteristik kaum pria yang hidup di negara empat musim seperti Pakistan</p>
<div id="attachment_75" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0443.jpg"><img class="size-medium wp-image-75" title="dscf0443" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0443.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Pasar Anarkali. Kaum pria yang berbelanja (Foto: Dimas) </p></div>
<p>itu. “Ada watak cemburu yang berlebihan,” ujarnya. Belum lagi alasan lain seperti demi keamanan. “Suasana politik di sini memang kurang kondusif dan rawan konflik sektarian, di samping tingkat kriminalitas juga tinggi.”</p>
<p>Lahore punya banyak bangunan bersejarah. Selain Masjid Badshahi, juga ada benteng pertahanan Royal Fort atau Fort Lahore yang dibangun oleh kaisar ketiga Moghul, Akbar Khan, pada 1566. Benteng ini letaknya berhadapan dengan Masjid Badshahi. Pintu masuk benteng bernama Gerbang Alamgiri, sesuai dengan nama kaisar yang membangun Badshahi.</p>
<p>Kini, Lahore juga berkembang jadi salah satu kota besar dan pusat perdagangan Pakistan selain Karachi. Pasar tradisional yang terkenal adalah Anarkali. Saat mengunjungi pasar ini saya jadi teringat pada apa yang dikatakan Fairuz soal larangan terhadap wanita keluar rumah. Belanja pun dilakukan kaum pria.</p>
<p>Pasar ini penuh dengan deretan toko dan pedagang kaki lima sepanjang jalan. Mereka menjual</p>
<div id="attachment_76" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0451.jpg"><img class="size-medium wp-image-76" title="dscf0451" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0451.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Gerbang Pasar Anarkali, Pasar Baru-nya Lahore (Foto: Dimas)</p></div>
<p>pakaian, suvenir khas Pakistan, dan berbagai kebutuhan lain. Mirip Pasar Baru atau Pasar Tanah Abang di Jakarta. Di sini orang harus pandai menawar. Said Hussein, seorang pedagang suvenir, bisa melepas barangnya setengah harga setelah ditawar. Begitu pun Ahmad, pedagang kain. Pashmina, kain khas Pakistan, dengan bordiran indah ditawarkan kepada saya seharga 400 rupee atau sekitar Rp 60 ribu. “Aaah, dari Indonesia? Anda saudara kami.” Dan, harga pun melorot ke 250 rupee.<br />
<strong>Dimas Adityo, Lahore, Pakistan<br />
</strong></p>
<div id="attachment_77" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0453.jpg"><img class="size-medium wp-image-77" title="dscf0453" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0453.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Seperti di Jakarta, di Lahore pun banyak penjaja &quot;gorengan&quot; (Foto: Dimas)</p></div>
<p>***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dimasadityo.wordpress.com/69/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dimasadityo.wordpress.com/69/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dimasadityo.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dimasadityo.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dimasadityo.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dimasadityo.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dimasadityo.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dimasadityo.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dimasadityo.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dimasadityo.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dimasadityo.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dimasadityo.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dimasadityo.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dimasadityo.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dimasadityo.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dimasadityo.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dimasadityo.wordpress.com&amp;blog=4009263&amp;post=69&amp;subd=dimasadityo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/09/05/sebuah-cerita-tentang-lahore/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a8f86fddfedbb998954e2fc9f1c5466?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">dimasadityo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0481.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dscf0481</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0477.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">dscf0477</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0478.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dscf0478</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0465.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dscf0465</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0443.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dscf0443</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0451.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dscf0451</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/09/dscf0453.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dscf0453</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hikayat Parang Binongko</title>
		<link>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/08/25/hikayat-parang-binongko/</link>
		<comments>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/08/25/hikayat-parang-binongko/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Aug 2008 11:44:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dimasadityo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya dan Adat]]></category>
		<category><![CDATA[Pandai besi]]></category>
		<category><![CDATA[Parang Binongko]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Binongko]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Tukang Besi]]></category>
		<category><![CDATA[Tanjung Rindu]]></category>
		<category><![CDATA[Togo Binongko]]></category>
		<category><![CDATA[Wakatobi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dimasadityo.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Satu lagi tulisan saya tentang Wakatobi. Yaitu soal Pulau Binongko, yang dikenal sebagai pulau para pandai besi. Meski dikenal sebagai &#8220;Pulau Tukang Besi&#8221;, kini banyak warganya yang merantau, meninggalkan pekerjaan turun-temurun itu. &#8212;&#8212;- Teng, teng, teng, teng.. BUNYI tempaan besi dipukul berkali-kali, terdengar bersahutan. Dari kebun berbukit di belakang perkampungan warga, suara itu berasal. Ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dimasadityo.wordpress.com&amp;blog=4009263&amp;post=55&amp;subd=dimasadityo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Satu lagi tulisan saya tentang Wakatobi. Yaitu soal Pulau Binongko, yang dikenal sebagai pulau para pandai besi. Meski dikenal sebagai &#8220;Pulau Tukang Besi&#8221;, kini banyak warganya yang merantau, meninggalkan pekerjaan turun-temurun itu.</strong></p>
<p>&#8212;&#8212;-</p>
<p><em>Teng, teng, teng, teng..</em></p>
<p>BUNYI tempaan besi dipukul berkali-kali, terdengar bersahutan. Dari kebun berbukit di belakang</p>
<div id="attachment_56" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-56" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/pbinongko-perajinparang.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas)" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Pandai besi di Pulau Binongko, sedang membuat parang (Foto: Dimas)</p></div>
<p>perkampungan warga, suara itu berasal. Ada sejumlah gubuk kayu di sana. Di tiap gubuk, dua orang pandai besi tampak sibuk membuat bermacam alat dari logam, dari parang yang berukuran besar sampai pisau. Satu orang menahan parang yang baru dipanaskan, seorang lagi memukulnya keras-keras.</p>
<p>Itulah kegiatan sehari-hari para pandai besi di sebuah desa di Kecamatan Togo Binongko, Pulau Binongko. Di antara empat pulau utama di Kepulauan Wakatobi, Pulau Binongko terletak di paling ujung tenggara. Pulau ini juga paling jauh jaraknya jika dijangkau dari Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. Dibanding tiga pulau lain, Wangi-Wangi, Kaledupa, dan Tomia, Pulau Binongko tergolong paling kurang tersentuh “modernisasi”.</p>
<p><span id="more-55"></span></p>
<p>Warga Binongko telah menjadi pandai besi secara turun-temurun. Orang tua dan kakek mereka</p>
<div id="attachment_61" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-61" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/pbinongko-darilaut.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Pulau Binongko" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Pulau Binongko (Foto:Dimas)</p></div>
<p>juga tukang besi. Memang, sebagian besar warga pulau ini menjadi tukang besi. Parang yang kuat dan tajam buatan mereka&#8211;kini disebut parang Binongko&#8211;dijual hingga ke daerah lain di Pulau Buton dan daratan Sulawesi.</p>
<p>Karena banyaknya warga yang menjadi tukang besi di Pulau Binongko, sejak puluhan tahun lalu pulau ini dinamai “Pulau Tukang Besi”. Penamaan itu kemudian melebar. Beberapa pulau lain&#8211;sekarang Kepulauan Wakatobi&#8211;juga dinamai “Kepulauan Tukang Besi”.</p>
<p>Pulau Binongko terbagi dua: Kecamatan Binongko dan Togo Binongko. Mulanya, pusat perajin besi itu berada di wilayah Kecamatan Binongko sekarang. Namun di daerah berpenduduk 10 ribu orang ini jumlah tukang besi itu semakin sedikit. Hanya tinggal beberapa orang.</p>
<p>Lebih banyak warga yang memilih jadi pedagang. “Mereka berdagang sampai ke Singapura dan Malaysia,” kata Camat Binongko, Kamaruddin. Mereka berdagang menggunakan kapal-kapal kayu. Sebagian warga lagi memilih jadi nelayan. Jumlah tukang besi yang “sedikit” lebih banyak ada di Kecamatan Togo Binongko. Perajin besi masih tersebar di sejumlah desa di wilayah yang penduduknya cuma 5.000 orang ini. Itu pun, “Yang betul-betul menjadi tukang besi sebagai mata pencarian paling tinggal seratus orang,” tutur Muhammad Jaffar, Camat Togo Binongko. “Banyak warga yang merantau ke Jakarta atau ke Batam,” ujarnya.</p>
<p>Di Kecamatan Togo Binongko, listrik hanya mengalir malam hari karena masih mengandalkan</p>
<div id="attachment_63" class="wp-caption alignright" style="width: 235px"><img class="size-medium wp-image-63" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/pbinongko-pelabuhanygbetul.jpg?w=225&#038;h=300" alt="Dimas)" width="225" height="300" /><p class="wp-caption-text">Pelabuhan tua di Pulau Binongko, dengan latar depan meriam kuno peninggalan Kesultanan Buton (Foto: Dimas)</p></div>
<p>generator dari kecamatan tetangganya. Jalan yang menghubungkan desa-desa di pulau ini berbatu-batu, tidak seperti pulau lain, yang kebanyakan sudah diaspal.</p>
<p>Sinyal telepon seluler? Jangan berharap banyak. Di pulau ini hanya ada satu tempat yang terjangkau sinyal. Itu karena tempat ini terbuka, sehingga sinyal satu operator yang memasang pemancarnya di Pulau Tomia bisa nyangkut. Tempat ini bernama “Tanjung Rinu”, terletak di atas bukit di pinggir pantai, yang oleh muda-mudi setempat dipelesetkan menjadi “Tanjung Rindu”.</p>
<p>Meski jumlah tukang besi semakin jauh berkurang, permintaan akan alat-alat besi buatan pulau ini tidak ikut suram. Parang dan pisau Binongko masih dicari.</p>
<p>Husni, tukang besi di Togo Binongko, mengaku bisa menjual 200 buah parang setiap bulan. Parang Binongko tergolong murah. Setiap hari, Husni, yang dibantu seorang saudaranya, sanggup membuat 20 buah parang. “Kami menjualnya ke pasar. Satu buahnya Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu,” katanya.<br />
<strong>Dimas Adityo, Pulau Binongko, April 2008</strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dimasadityo.wordpress.com/55/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dimasadityo.wordpress.com/55/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dimasadityo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dimasadityo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dimasadityo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dimasadityo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dimasadityo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dimasadityo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dimasadityo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dimasadityo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dimasadityo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dimasadityo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dimasadityo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dimasadityo.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dimasadityo.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dimasadityo.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dimasadityo.wordpress.com&amp;blog=4009263&amp;post=55&amp;subd=dimasadityo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/08/25/hikayat-parang-binongko/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>130</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a8f86fddfedbb998954e2fc9f1c5466?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">dimasadityo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/pbinongko-perajinparang.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/pbinongko-darilaut.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Pulau Binongko</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/pbinongko-pelabuhanygbetul.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suku Bajo dan “No Go Area”</title>
		<link>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/08/20/suku-bajo-dan-%e2%80%9cno-go-area%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/08/20/suku-bajo-dan-%e2%80%9cno-go-area%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 16:29:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dimasadityo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya dan Adat]]></category>
		<category><![CDATA[bom ikan]]></category>
		<category><![CDATA[Bupati Wakatobi]]></category>
		<category><![CDATA[Hugua]]></category>
		<category><![CDATA[Kaledupa]]></category>
		<category><![CDATA[Lamanggau]]></category>
		<category><![CDATA[Mantigola]]></category>
		<category><![CDATA[Mola]]></category>
		<category><![CDATA[Mustamin]]></category>
		<category><![CDATA[nelayan Bajo]]></category>
		<category><![CDATA[pemanfaatan umum]]></category>
		<category><![CDATA[Penyu sisik]]></category>
		<category><![CDATA[Peta zonasi]]></category>
		<category><![CDATA[potas]]></category>
		<category><![CDATA[Sampela]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional Wakatobi]]></category>
		<category><![CDATA[The Nature Conservancy]]></category>
		<category><![CDATA[Tomia]]></category>
		<category><![CDATA[trawl]]></category>
		<category><![CDATA[Veda Santiaji]]></category>
		<category><![CDATA[Wakatobi]]></category>
		<category><![CDATA[Wangi-Wangi]]></category>
		<category><![CDATA[World Wildlife Fund]]></category>
		<category><![CDATA[Zona inti]]></category>
		<category><![CDATA[Zona pemanfaatan lokal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dimasadityo.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Zonasi Taman Nasional Wakatobi diperbarui untuk mencegah makin susutnya area pemijahan ikan alami. Nelayan suku Bajo khawatir daerah tangkapan menyempit. &#8212;&#8212;- DESA Mola Selatan, perkampungan suku Bajo di Pulau Wangi-Wangi, suatu siang pertengahan April 2008 lalu. Rumah La Ode Mustamin tiba-tiba dipenuhi belasan warga. Padahal sang empunya rumah, yang menjabat kepala desa, tidak sedang menggelar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dimasadityo.wordpress.com&amp;blog=4009263&amp;post=49&amp;subd=dimasadityo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_50" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc01372.jpg"><img class="size-full wp-image-50" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc01372.jpg?w=500&#038;h=375" alt="Dimas)" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">Kampung Sampela, pemukiman Suku Bajo yang dibangun di tengah laut (Foto: Dimas)</p></div>
<p><strong>Zonasi Taman Nasional Wakatobi diperbarui untuk mencegah makin susutnya area pemijahan ikan alami. Nelayan suku Bajo khawatir daerah tangkapan menyempit.</strong></p>
<p><strong>&#8212;&#8212;-</strong></p>
<p>DESA Mola Selatan, perkampungan suku Bajo di Pulau Wangi-Wangi, suatu siang pertengahan April 2008 lalu. Rumah La Ode Mustamin tiba-tiba dipenuhi belasan warga. Padahal sang empunya rumah, yang menjabat kepala desa, tidak sedang menggelar pertemuan.</p>
<p><span id="more-49"></span></p>
<p>Para nelayan Bajo ini mendadak berkumpul karena sejumlah wartawan&#8211;termasuk saya dari <em>Tempo</em>&#8211;bertandang ke rumah Mustamin. Seperti dikomando, mereka nimbrung ketika sang pemimpin berkeluh-kesah tentang kesulitan ekonomi yang dialami warga.</p>
<p>Ketua komunitas kerukunan masyarakat Bajo se-Kabupaten Wakatobi ini mengeluhkan aturan zonasi Taman Nasional Wakatobi yang ditetapkan tahun lalu. Sejumlah lokasi menjadi daerah terlarang bagi nelayan untuk menangkap ikan. “Sekarang semua serba dilarang,” kata Mustamin.</p>
<p>Pada Juli 2007, Balai Taman Nasional Wakatobi bersama Pemerintah Kabupaten Wakatobi serta Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam menetapkan peta zonasi. Zonasi ini untuk membatasi daerah yang bisa dimanfaatkan dan yang tidak. Peta ini membagi perairan Wakatobi menjadi lima zona: zona inti, perlindungan bahari, pariwisata, pemanfaatan lokal, dan pemanfaatan umum.</p>
<p>Zona inti atau “no go area” adalah kawasan yang sama sekali tidak boleh dimanfaatkan atau dilintasi kapal. Zona perlindungan bahari juga terlarang untuk penangkapan ikan, meski kapal nelayan boleh melintas. Adapun zona pariwisata hanya untuk wisata. Nelayan hanya boleh menangkap ikan di zona pemanfaatan lokal dan zona pemanfaatan umum.</p>
<p>Zona pemanfaatan lokal inilah yang bisa dimanfaatkan nelayan setempat. Sedangkan nelayan daerah lain, asalkan mengantongi izin, bisa mencari ikan di zona pemanfaatan umum. Aturan zonasi inilah yang dikhawatirkan semakin mempersulit ekonomi warga. Suku Bajo, kata Mustamin, sangat menggantungkan hidup pada hasil laut.</p>
<p>***</p>
<p>Suku Bajo, bagaimana keadaan mereka?</p>
<p>JUMLAH  penduduk suku Bajo di Kepulauan Wakatobi kini 12 ribu orang, yang tersebar di beberapa kampung. Selain Mola Selatan, ada Desa Mantigola dan Sampela di Pulau Kaledupa serta Desa Lamanggau di Tomia. Mola terbanyak penduduknya, 7.000 orang. Kampung ini juga paling “modern” dibanding kampung Bajo lain. Beberapa rumah terbuat dari tembok, sebagian beratap seng, menunjukkan sisa-sisa “kejayaan” mereka.</p>
<p>Jalan-jalan setapak yang melintasi kampung dibeton, seakan sudah menyatu dengan daratan. Itu berbeda dengan Kampung Sampela, yang merupakan “rumah tancap” di tengah laut, terpisah dari darat, seakan membentuk sebuah pulau sendiri. Meski lebih modern, sebagian rumah warga di Mola masih menunjukkan ciri khas perkampungan Bajo: rumah panggung dari kayu atau gedek, dengan atap daun kelapa. Kampung didirikan di atas laut, yang ditimbun karang.</p>
<p>Suku Bajo memang tak terpisahkan dari laut. Sejak dulu, mereka dikenal sebagai pelaut ulung, gemar mengarungi lautan Nusantara. Sejak puluhan tahun lalu, para orang tua mereka mendapat berkah dari hasil laut perairan ini. Mereka bisa menangkap ikan dan penyu di mana pun tanpa larangan.</p>
<p>Untuk menangkap ikan, mereka berlayar ke perairan Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, bahkan sampai ke wilayah Australia. Nelayan Desa Mola Selatan “terkenal” sering terjaring pihak berwajib Australia. “Saya pernah ditahan polisi Australia karena menangkap hiu untuk diambil sirip dan ekornya,” ujar Mujur, nelayan Bajo di Mola.</p>
<p>Mustamin bercerita, pada 1980-an hingga 1990-an, warga Bajo Wakatobi mengalami “masa</p>
<div id="attachment_51" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc01373.jpg"><img class="size-medium wp-image-51" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc01373.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Suku Bajo, tak terpisahkan dari laut (Foto: Dimas)</p></div>
<p>kejayaan” berdagang penyu sisik. Penyu yang ditangkap sebagian dijual, sebagian dikembangbiakkan. Dulu mereka bisa menjual penyu sisik ukuran 60 sentimeter seharga Rp 100-200 ribu per ekor. “Penyu itu sekarang harganya jutaan,” ujarnya. Mereka menjualnya ke beberapa daerah, terutama Bali. Di Pulau Dewata, kata Mustamin, penyu laku keras karena dibutuhkan untuk upacara adat. Ia pernah menjual 200 ekor penyu sisik ke Bali sekali kirim.</p>
<p>Penjualan penyu memang bergantung pada besar kapal yang digunakan. “Dari berdagang penyu, tiga bulan sekali kami mendapat puluhan juta rupiah.” Setelah penangkapan penyu dilarang di seluruh perairan Indonesia, kegiatan perdagangan hewan itu merosot drastis. Pendapatan mereka sejak beberapa tahun lalu pun jauh berkurang.</p>
<p>Kini kesulitan itu ditambah dengan kekhawatiran soal penetapan zonasi. Meski para nelayan Bajo bisa saja mencari ikan di luar kawasan konservasi, larangan itu tak urung membuat daerah tangkapan mereka semakin sempit. Warga khawatir pendapatan mereka yang sudah berkurang makin menyusut. “Dulu pinjam uang jutaan mudah, sekarang Rp 100 ribu saja sulit,” ujar Mustamin.</p>
<p>Bupati Wakatobi, Hugua, mengungkapkan keresahan warga Bajo. “Manusiawi, mereka merasa terusik.” Padahal, kata Hugua, hanya 10 persen kawasan perairan Wakatobi yang tidak boleh diganggu. Meski demikian, ia mengaku tak membiarkan warga Bajo kesulitan akibat aturan itu. Belum lama ini, kabupaten mengucurkan kredit ringan Rp 20 miliar untuk masyarakat, termasuk warga Bajo.</p>
<p>Kredit ini untuk mengembangkan usaha di sektor perikanan dan kelautan, kerajinan, serta pariwisata. Untuk warga Bajo, kredit dikucurkan antara lain melalui program motorisasi kapal. “Untuk meningkatkan kemampuan menangkap ikan, tapi dengan alat ramah lingkungan.” Nelayan diberi pemahaman bahwa mereka masih bisa menangkap ikan meskipun selektif. Misalnya ikan yang bermigrasi sepanjang waktu dari laut dalam atau laut lepas. “Ikan laut dalam ini yang kita tangkap di Wakatobi,” kata Hugua.</p>
<p>Veda Santiaji, project leader The Nature Conservancy-World Wildlife Fund, mengatakan aturan zonasi dibuat untuk mengefektifkan konservasi kawasan itu. Sejak taman nasional diresmikan, 1996, sebenarnya telah dibuat peta zonasi. “Tapi sampai 2003 belum berjalan efektif,” ujarnya. Nelayan masih menangkap ikan di daerah terlarang.</p>
<p>Area pemijahan ikan, yang dulu tersebar di 30 lokasi, pada 2003 menyusut tinggal 12 lokasi karena penangkapan berlebihan. Penggunaan bom ikan, bius (potas), dan pukat harimau (trawl) yang merusak lingkungan masih terjadi. Terumbu karang di kawasan “segi tiga karang dunia” itu banyak yang rusak akibat praktek tersebut. “Karena itu, zonasi didesain ulang,” kata Veda.</p>
<p>Meski peta zonasi yang baru telah dikeluarkan tahun lalu, bukan berarti aturan ini langsung efektif. Penangkapan ikan di zona-zona terlarang masih terjadi. Penggunaan bom ikan, meski jauh berkurang, kadang dilakukan di tempat yang jauh dari pantauan. “Penggunaan potas juga masih marak.” Karena itu, kata Veda, penerapan zonasi bukan untuk membatasi hajat hidup nelayan. “Tapi justru menjamin suplai sumber daya laut demi kepentingan hajat hidup mereka di masa depan.”</p>
<p>Warga Bajo sendiri sesungguhnya mempersilakan aturan zonasi kawasan konservasi diterapkan. Tapi mereka tetap menanti solusi “alternatif” jika lokasi-lokasi yang mereka anggap banyak ikannya justru masuk zona terlarang. “Kami kan butuh makan,” katanya. Mereka menganggap program bantuan yang direncanakan pemerintah setempat masih belum jelas manfaat dan sasarannya. Tapi, di sisi lain, nelayan Bajo selalu menjadi pihak yang dicurigai melanggar kawasan konservasi. “Kami merasa dianggap seperti anak tiri,” ujar Mustamin.<br />
<strong>Dimas Adityo, Wakatobi, April 2008</strong></p>
<p>***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dimasadityo.wordpress.com/49/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dimasadityo.wordpress.com/49/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dimasadityo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dimasadityo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dimasadityo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dimasadityo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dimasadityo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dimasadityo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dimasadityo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dimasadityo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dimasadityo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dimasadityo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dimasadityo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dimasadityo.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dimasadityo.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dimasadityo.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dimasadityo.wordpress.com&amp;blog=4009263&amp;post=49&amp;subd=dimasadityo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/08/20/suku-bajo-dan-%e2%80%9cno-go-area%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a8f86fddfedbb998954e2fc9f1c5466?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">dimasadityo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc01372.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc01373.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menengok Jantung Karang Dunia</title>
		<link>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/08/20/menengok-jantung-karang-dunia/</link>
		<comments>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/08/20/menengok-jantung-karang-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Aug 2008 15:26:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dimasadityo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Laut dan Pantai]]></category>
		<category><![CDATA[Binongko]]></category>
		<category><![CDATA[bom ikan]]></category>
		<category><![CDATA[Buton]]></category>
		<category><![CDATA[dive site]]></category>
		<category><![CDATA[fin]]></category>
		<category><![CDATA[Hoga Channel]]></category>
		<category><![CDATA[Hugua]]></category>
		<category><![CDATA[jantung karang dunia]]></category>
		<category><![CDATA[kabupaten Wakatobi]]></category>
		<category><![CDATA[Kaledupa]]></category>
		<category><![CDATA[menyelam]]></category>
		<category><![CDATA[Nadine Chandrawinata]]></category>
		<category><![CDATA[penyelaman]]></category>
		<category><![CDATA[potas]]></category>
		<category><![CDATA[Pulau Hoga]]></category>
		<category><![CDATA[segitiga karang dunia]]></category>
		<category><![CDATA[Sulawesi Tenggara]]></category>
		<category><![CDATA[terumbu karang]]></category>
		<category><![CDATA[The Nature Conservancy]]></category>
		<category><![CDATA[Tomia]]></category>
		<category><![CDATA[Wakatobi]]></category>
		<category><![CDATA[Wangi-Wangi]]></category>
		<category><![CDATA[wet suit]]></category>
		<category><![CDATA[World Wildlife Fund]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dimasadityo.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[WAKATOBI. Kawasan kepulauan dekat Pulau Buton ini disebut-sebut sebagai “jantung karang dunia”. Di perairan itu memang muncul sebuah keajaiban alam. Sebuah gugusan pulau karang membentang sekitar 48 kilometer, dengan luas 90 ribu hektare, yang menjadikannya karang terpanjang di dunia. Di situlah para penyelam internasional bersaksi, di dasar lautnya terdapat panorama terumbu karang yang paling cantik, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dimasadityo.wordpress.com&amp;blog=4009263&amp;post=34&amp;subd=dimasadityo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_37" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/spags-040.jpg"><img class="size-full wp-image-37" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/spags-040.jpg?w=500&#038;h=375" alt="The Nature Conservancy-World Wildlife Fund)" width="500" height="375" /></a><p class="wp-caption-text">Keindahan bawah laut Wakatobi (Foto: The Nature Conservancy-World Wildlife Fund)</p></div>
<p><strong>WAKATOBI. Kawasan kepulauan dekat Pulau Buton ini disebut-sebut sebagai “jantung karang dunia”. Di perairan itu memang muncul sebuah keajaiban alam. Sebuah gugusan pulau karang membentang sekitar 48 kilometer, dengan luas 90 ribu hektare, yang menjadikannya karang terpanjang di dunia.</strong></p>
<p>Di situlah para penyelam internasional bersaksi, di dasar lautnya terdapat panorama terumbu karang yang paling cantik, penuh keanekaragaman ikan yang tak ada duanya di dunia, bahkan dibanding Karibia. Dengan snorkeling sebentar, kita dapat menemui barracuda, ikan badut, dan kuda laut.</p>
<p><span id="more-34"></span></p>
<p>Dan siang itu&#8211;dalam perjalanan menuju “surga” tersebut&#8211;kapal motor yang saya tumpangi pontang-panting digoyang ombak keras Laut Banda. Perjalanan ditempuh dari Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. Dengan perahu cepat itu, Kendari ke Wangi-Wangi, salah satu pulau di sana, biasanya ditempuh tiga setengah jam. Namun, ombak ganas hari itu membuat perjalanan kami memakan waktu delapan jam.</p>
<p>Nama Wakatobi diambil dari singkatan empat pulau utama: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Pertengahan April 2008 lalu, saya bergabung dalam sebuah ekspedisi mengeksplorasi potensi wisata Wakatobi. Acara ini diadakan Pemerintah Kabupaten Wakatobi, diikuti sejumlah wartawan dari Jakarta dan lokal. Kami bermaksud mengunjungi keempat pulau tersebut.</p>
<p>Sejak 1996, pemerintah meresmikan perairan Wakatobi menjadi Taman Nasional Wakatobi.</p>
<div id="attachment_38" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc013101.jpg"><img class="size-medium wp-image-38" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc013101.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Keindahan pantai di Wakatobi (Foto: Dimas)</p></div>
<p>Sebuah keputusan yang saya kira tepat, karena sebagaimana hasil penelitian Operation Wallacea, sebuah lembaga penelitian yang berpusat di Inggris: Wakatobi mempunyai angka tertinggi di dunia untuk keanekaragaman biota lautnya. Lembaga ini mencatat ada 942 spesies ikan hidup di sini.</p>
<p>Di Wakatobi juga terdapat 750 spesies karang dari 850 spesies yang ada di muka bumi. Bandingkan dengan dua pusat terumbu karang lain di dunia. Laut Merah yang hanya mempunyai 300 spesies, sedangkan Laut Karibia hanya 50 spesies.</p>
<p>Pulau-pulaunya juga menyimpan keunikan. Di situ misalnya ada perkampungan para “petualang laut” terkenal suku Bajo. Di beberapa tempat juga terdapat peninggalan sejarah&#8211;kejayaan kekuasaan Kesultanan Buton.</p>
<p>***</p>
<p>Kami akhirnya tiba di Wangi-Wangi, pulau terbesar dengan penduduk 50 ribu jiwa, ibu kota kabupaten. Pagi itu tampak sebagian warga memulai aktivitas mereka. Di Desa Liya Mawi, kaum ibu terlihat sibuk memanen rumput laut sembari mengasuh anak mereka. Tumbuhan berkhasiat ini diangkat dari tempat persemaian di laut, tak jauh dari pantai. Rumput laut atau disebut <em>garanggang</em> adalah penghasilan utama mereka. Setelah dipanen, garanggang dijemur kemudian dijual Rp 7.000-8.000 per kilogram.</p>
<p>Tak syak, masyarakat Kepulauan Wakatobi mengandalkan penghasilan utama dari laut. Meski</p>
<div id="attachment_39" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc012841.jpg"><img class="size-medium wp-image-39" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc012841.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Kaum ibu memanen rumput laut di Pulau Wangi-Wangi (Foto: Dimas)</p></div>
<p>begitu, ada juga sebagian warga Wanci&#8211;sebutan lokal untuk Wangi-Wangi&#8211;yang berdagang barang bekas impor. “Mereka berburu barang sampai ke Singapura pakai kapal kayu, lalu dijual di sini,” kata Saleh, warga lokal yang menemani saya jalan-jalan di pulau itu.</p>
<p>Wangi-Wangi sempat dikenal sebagai daerah pemasok barang bekas impor berharga murah. Dari pakaian bermerek terkenal, barang elektronik, sampai kendaraan bermotor “beredar” di sini. Saya sempat heran ketika melihat motor <em>gede</em> merek Aprilia melintas di depan saya. “Di sini motor seperti itu bisa dibeli seharga Rp 10 juta saja,” ujar Saleh, yang juga aktivis World Wildlife Fund. Buset.. kata saya dalam hati, karena di Jakarta, merek terkenal itu mungkin harganya lima kali lipat.</p>
<p>Saya mengunjungi Masjid Liya di Wangi-Wangi. Masjid ini konon tertua setelah Masjid Keraton Buton di Pulau Buton. Letak masjid ini di atas bukit, di dekat Benteng Liya Togo. Di zaman penjajahan Portugis dan Belanda, tempat ini merupakan salah satu benteng pertahanan. Tak jauh dari benteng, ada makam Talo-Talo, pemimpin <em>kadiye</em> atau “kerajaan kecil” bagian Kesultanan Buton. Talo-Talo dalam bahasa setempat berarti “dia yang mengalahkan”.</p>
<p>Ada pula makam Djilabu, ulama penyebar syiar Islam daerah itu. Sejumlah bangunan bersejarah ini</p>
<div id="attachment_40" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc012881.jpg"><img class="size-medium wp-image-40" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc012881.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Masjid Liya, peninggalan Kesultanan Buton di Wakatobi (Foto: Dimas)</p></div>
<p>berada di Desa Liya Togo. Sesuai dengan artinya, tempat ini dulu togo atau pusat kota. Tiap-tiap Lebaran desa ini menyelenggarakan ritual adat <em>Posepa</em>, semacam tawuran massal yang diakhiri dengan bermaaf-maafan, di tanah lapang di depan masjid. Rumah peninggalan La Ode Taru tak jauh dari Masjid Liya. La Ode Taru “raja kecil” terakhir Liya yang dibunuh pada zaman penjajahan Jepang.</p>
<p>Sorenya saya mengunjungi pasar malam Wanci. Pasar itu menjual berbagai kebutuhan warga Wangi-Wangi. Ikan berbagai ukuran, dari yang kecil sampai sebesar anak umur empat tahun, juga ada.</p>
<p>***</p>
<p>Pukul dua dini hari. Tatkala sunyi menyelimuti warga Wangi-Wangi, kami menuju ke Kaledupa. Sebuah kapal pinisi putih bernama Menami yang buang sauh 500 meter di lepas pantai pelabuhan kecil Wangi-Wangi telah menanti kami untuk perjalanan ke Kaledupa.</p>
<p>Pinisi itu sulit bersandar di dermaga karena air laut surut. Untuk mencapainya, kami naik speedboat. Pelayaran dari Wangi-Wangi ke Kaledupa dengan kapal Menami yang punya kecepatan maksimum delapan mil per jam butuh waktu tiga jam.</p>
<p>“Kita berangkat dini hari. Biar pukul lima pagi kita sudah masuk perairan Kaledupa,” kata Veda Santiaji, project leader The Nature Conservancy- World Wildlife Fund, yang memimpin pelayaran.</p>
<p>The Nature Conservancy dan World Wildlife Fund adalah dua lembaga yang dalam lima tahun ini buka base camp di Wakatobi. Bersama pemerintah setempat, kedua lembaga itu memonitor kawasan taman laut nasional.</p>
<p>Kami memasuki perairan Kaledupa ketika matahari masih malu-malu memperlihatkan wajahnya.</p>
<div id="attachment_41" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc012981.jpg"><img class="size-medium wp-image-41" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc012981.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Matahari terbit di perairan Wakatobi (Foto: Dimas)</p></div>
<p>Sunrise begitu indah di tempat ini. Pukul enam, kapal buang sauh di perairan yang diapit Pulau Kaledupa dan Hoga. Saya tak sabar bergegas pindah ke kapal motor untuk merapat ke Pulau Hoga.</p>
<p>Meski pulau kecil, Hoga adalah salah satu tempat favorit penyelam profesional dalam dan luar negeri. Di pulau ini terdapat Marine Research Station, yang dikelola Operation Wallacea. Biasanya musim penyelaman terjadi sepanjang satu bulan pada Maret atau tiga bulan sepanjang Juni-Agustus (musim panjang). “Musim panjang, tamu yang datang bisa ratusan orang,” kata Asri, pengurus stasiun riset itu.</p>
<p>Umumnya mereka mahasiswa Eropa dan Amerika yang meneliti biota laut. Di tempat ini mereka bisa tinggal berminggu-minggu. Saya sempat jalan-jalan di pulau teduh dengan rerimbunan pohon itu. Lewat jalan setapak, saya mengelilingi area penginapan para peneliti asing tersebut. Ada sekitar 200 penginapan sederhana, berbentuk rumah panggung kecil dari kayu, tersebar di sebagian pulau. Itu milik warga Kaledupa. “Sewanya Rp 40 ribu semalam tiap orang,” ujar Asri. Harga yang murah untuk orang asing.</p>
<p>Bupati Wakatobi, Hugua mengatakan kehadiran stasiun penelitian itu dirasakan langsung dampaknya oleh masyarakat. Selain mendapat uang sewa penginapan, warga memperoleh penghasilan dari penyediaan makanan untuk mereka. “Operation Wallacea cuma tangani penelitian. Penginapan dan makanan diserahkan ke warga,” kata Hugua.</p>
<p>Sayang, lantaran waktunya tidak tepat, saya tak menemukan satu <em>bule</em> pun di sana.</p>
<div id="attachment_42" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc013151.jpg"><img class="size-medium wp-image-42" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc013151.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Betapa indahnya pantai di Pulau Hoga (Foto: Dimas)</p></div>
<p>Ratusan penginapan itu kosong melompong, meski adakalanya pulau ini penuh sesak. Wajar jika Hoga jadi daya tarik para penyelam. Pantainya sangat indah berpasir putih, nyiur melambai menyambut siapa pun yang datang. Tak satu pun bungkus permen atau biskuit saya temukan. Kebersihannya terjaga, pemandangan langka di pantai-pantai wisata di Jawa.</p>
<p>Dari atas dermaga kayu, saya melihat ikan warna-warni bermain di celah terumbu karang. Air lautnya jernih, memungkinkan saya menonton pemandangan dasar laut tanpa harus terjun ke air. Pulau Hoga mengingatkan orang akan keindahan laut dan pantai di film The Beach yang diperankan Leonardo DiCaprio. Tak terasa, dua jam kami berjalan-jalan di Hoga. Kami harus kembali ke kapal Menami.</p>
<p>Di kapal ternyata ada rombongan lain bergabung. Mereka menyusul dari Wangi-Wangi naik speedboat. Ada tim penyelam profesional yang akan membuat film bawah laut dengan Nadine Chandrawinata sebagai bintang-nya. Mantan Putri Indonesia itu ditemani ayahnya, Andy Chandrawinata.</p>
<p>Dan peralatan selam kemudian disiapkan. Dua buah boat parkir di sisi kapal Menami, siap</p>
<div id="attachment_43" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc013021.jpg"><img class="size-medium wp-image-43" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc013021.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Speed boat meninggalkan Kapal Menami yang sedang buang sauh (Foto: Dimas)</p></div>
<p>mengantar ke Hoga Channel. Ini sebuah dive site atau situs penyelaman yang terletak antara Pulau Hoga dan Kaledupa. Di sini kami membagi dua tim. Tim pertama menyelam hingga kedalaman 20 meter. Tim ini tentu melengkapi diri dengan pakaian selam (<em>wet suit</em>), sepatu katak (<em>fin</em>), masker, dan tabung oksigen. Nadine, yang kini rajin menyelam, tentu di tim pertama.</p>
<p>Saya sendiri bergabung dengan tim kedua, ber-snorkeling ria. Kami tak perlu tabung oksigen. Cuma modal kacamata snorkel dengan selang menjulur ke atas untuk nyemplung ke laut. Selang ini membantu bernapas dengan mulut saat berenang dengan kepala di bawah permukaan air untuk melihat pemandangan dasar laut. Karena itu, tim kami memilih lokasi yang tak terlalu dalam, dua setengah sampai lima meter saja. Saya tidak mau ambil risiko ikut tim pertama menyelam puluhan meter. Jujur, saya tak punya keterampilan menyelam. Ingat semboyan, “Safety first.”</p>
<p>Meski cuma snorkeling, saya mendapat pengalaman tak kalah keren. Di Wakatobi, snorkeling pun bisa menyaksikan “surga” bawah laut. Karang warna-warni menggerombol di sana-sini. Anemon fish atau ikan badut bermain di sela-sela karang lembut anemon yang jadi rumah mereka. Apa jadinya jika karang indah itu rusak gara-gara pemakaian bom ikan?</p>
<p>Makhluk laut yang cantik itu tentu tak lagi bisa bermain dan berkembang biak di sana. Kelestariannya sangat bergantung pada kelestarian karang. Cipto Aji Gunawan, penyelam profesional yang ikut dalam kegiatan ini, mengatakan ada jenis ikan yang bertelur di karang, tapi banyak juga jenis yang tinggal dan hidup di sana. “Lebih dari 33 persen jenis ikan laut bergantung pada terumbu karang,” ujar konsultan pengembangan wisata bahari ini.</p>
<p>Selain Hoga Channel, ada sekitar 20 situs penyelaman tersebar di perairan Wakatobi. Di antara itu, ada yang menjadi favorit para penyelam. Itulah situs Pinnacle, di dekat Pulau Hoga. Di Kaledupa ada Karang Kaledupa dan di Pulau Tomia ada Mari Mabuk. Setiap situs ini punya keunikan masing-masing. Seperti di Karang Kaledupa, terdapat <em>table coral</em> (karang berbentuk meja) berukuran 2-3 meter. “Ini jarang dijumpai di dive site lain,” kata Cipto.</p>
<p>Soal keindahan struktur karang, Pinnacle pusatnya. Di situs ini, karangnya bergunung-gunung, sesuai dengan namanya, Pinnacle atau “puncak”. Lokasi ini juga menjadi habitat ikan barracuda yang jarang ditemui di tempat lain. Ikan berbentuk lonjong seperti peluru itu termasuk hewan laut tercepat. Di Pinnacle, ikan barracuda bergerombol. Hoga Channel lain lagi. Di lokasi ini bisa dijumpai pygmy, kuda laut berukuran sangat kecil. Nadine sampai dua kali menyelam hari itu. Keindahan bawah laut Wakatobi tak pernah ia temukan di tempat lain. “Karangnya indah, ikannya cantik-cantik,” ujarnya.</p>
<p>***</p>
<p>Pada hari ketiga saya mengunjungi Pulau Tomia. Seperti dari Wangi-Wangi ke Kaledupa, perjalanan</p>
<div id="attachment_44" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc01295.jpg"><img class="size-medium wp-image-44" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc01295.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Warga Wakatobi menjual ikan di pasar (Foto: Dimas)</p></div>
<p>Kaledupa-Tomia berlangsung sekitar tiga jam. Sebelum berlayar ke Tomia malam harinya, kami mampir di Kaledupa. Dekat dermaga Kaledupa, rumah-rumah panggung warga hampir seragam, berderet rapi. Di sini saya mencicipi ikan bakar, juga <em>kaswami</em> dari ubi dan <em>luluta</em>. Luluta atau nasi bambu adalah nasi ketan yang dibakar dengan batang bambu. Enak.</p>
<p>Kami kembali menyelam dan snorkeling di Tomia. Kami juga mengunjungi Benteng Patua. Seperti Benteng Liya di Wangi-Wangi, Benteng Patua konon dibangun di masa kekuasaan Kesultanan Buton. Letaknya juga di atas bukit. Perlu 30 menit bermobil plus 20 menit jalan kaki ke sini. Beberapa meriam kuno masih terpasang mengarah ke laut, “menyambut” kedatangan musuh. Konon perairan ini dulu dilewati kapal penjajah yang “merampok” rempah dari Maluku. Di area benteng juga terdapat makam tokoh pejuang lokal dan bekas perkampungan.</p>
<p>Ada pula Jomba Katepi yang menyita perhatian. Sumur berlubang kecil sedalam lebih dari 100 meter itu ternyata WC “masa lalu”. Versi berbeda selain tempat buang hajat adalah tempat menceburkan orang-orang hukuman. Sayang, peninggalan arkeologis itu kurang mendapat perhatian. Saat ke sini, jalan setapak menuju benteng tertutup alang-alang. Bangunan benteng dan makam yang seharusnya terlihat, sebagian tertutup pohon dan semak belukar. Apa boleh buat, kesan angker yang terasa.</p>
<p>***</p>
<p>Hari itu juga kami mengunjungi Pulau Binongko. Kami tidak menggunakan kapal Menami, tapi naik speedboat agar cukup waktu. Esoknya kami harus balik badan ke Wangi-Wangi dan kembali ke Jakarta. Memakai perahu cepat, dari Tomia ke Binongko sekitar satu jam saja. Di Pulau Binongko kami mendatangi para tukang besi yang jumlahnya makin berkurang.</p>
<p>Kembali ke Tomia, kami mampir di Wakatobi Dive Resort. Resor eksklusif ini milik penanam modal</p>
<div id="attachment_45" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc01349.jpg"><img class="size-medium wp-image-45" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc01349.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Wakatobi Dive Resort di Pulau Tomia (Foto: Dimas)</p></div>
<p>asing. Mungkin jarang turis lokal menginap di sini. Kebanyakan turis asing berkantong tebal, karena paket menginap dan wisata selamnya dipatok dengan dolar.</p>
<p>Saking eksklusifnya, resor ini membangun Bandar Udara Maranggo, bandara kecil untuk pesawat pengangkut tamu mereka dari Bali. Pemerintah kabupaten pun sekarang tengah membangun lapangan terbang umum di Wangi-Wangi. Bandara yang bakal bernama Matahora ini memiliki landasan sepanjang 1.600 meter, pembangunannya ditargetkan rampung tahun 2008 ini. Sebuah maskapai penerbangan pelat merah sudah siap mendaratkan pesawatnya untuk menarik minat wisatawan berkunjung.</p>
<p>Saat perjalanan pulang dari Binongko, sejumlah ikan lumba-lumba beriringan melintas di depan speedboat kami. Saya jadi ingat yang dikatakan Veda Santiaji. Dulu, di Wakatobi terdapat 30 area pemijahan ikan alami. Pada 2003 jumlahnya menyusut tinggal 12 karena penangkapan ikan berlebihan atau<em> over-fishing</em>. Tahun lalu jumlah ini melorot lagi tinggal empat, dengan satu lokasi kini dalam keadaan kolaps.</p>
<p>Penangkapan ikan di area konservasi masih terjadi. Penggunaan bom untuk menangkap ikan masih dilakukan sembunyi-sembunyi, di tempat yang jauh dari pantauan. Penggunaan bius atau potas oleh nelayan yang dimodali pengusaha lokal masih marak.</p>
<p>Bom menghancurkan terumbu karang. Potas mematikan hewan karang dan sebaran racunnya</p>
<div id="attachment_46" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc013531.jpg"><img class="size-medium wp-image-46" src="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc013531.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Dimas)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Bayangkan nikmatnya bersantai di Wakatobi Dive Resort (Foto: Dimas)</p></div>
<p>merusak biota laut lain. Saya tercenung, jangan sampai Wakatobi tak lagi menjadi “surga” ikan-ikan dan terumbu karang.<br />
<strong>Dimas Adityo, Wakatobi, April 2008</strong></p>
<p>***</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/dimasadityo.wordpress.com/34/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/dimasadityo.wordpress.com/34/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dimasadityo.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dimasadityo.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dimasadityo.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dimasadityo.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dimasadityo.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dimasadityo.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dimasadityo.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dimasadityo.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dimasadityo.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dimasadityo.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dimasadityo.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dimasadityo.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dimasadityo.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dimasadityo.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dimasadityo.wordpress.com&amp;blog=4009263&amp;post=34&amp;subd=dimasadityo&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dimasadityo.wordpress.com/2008/08/20/menengok-jantung-karang-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7a8f86fddfedbb998954e2fc9f1c5466?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">dimasadityo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/spags-040.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">The Nature Conservancy-World Wildlife Fund)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc013101.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc012841.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc012881.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc012981.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc013151.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc013021.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc01295.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc01349.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://dimasadityo.files.wordpress.com/2008/08/dsc013531.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Dimas)</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
