Feeds:
Pos
Komentar

Rafting, Rafting, Rafting!!

Menelusuri jeram-jeram Sungai Citarik di Sukabumi, Jawa Barat, akan terasa lebih “nikmat” di musim hujan. Apalagi jika memilih rute terpanjang, sejauh 13 kilometer. Kita tak perlu khawatir selama mengikuti prosedur standar keselamatan.

Arus Liar/ Dok.Dimas)

Tim Tempo menjajal jeram-jeram Sungai Citarik, sepanjang 13 km (Foto: Arus Liar/ Dok.Dimas)

Musim hujan tiba. Seorang teman bertanya, di musim hujan seperti sekarang, enaknya outing kemana di akhir minggu? Tanpa memberi pilihan lain, Saya langsung menjawab pertanyaan teman yang memang hobby ngeluyur itu. “Rafting!”

Ya, rafting di Sungai Citarik! Selain tidak terlalu jauh dijangkau dari Jakarta, di musim hujan, debit air sungai ini akan meningkat. Bagi yang menyukai olah raga petualangan, rafting atau ber-arung jeram di sungai yang lebih deras, tentu akan terasa lebih nikmat.

Lanjut Baca »

Ke Pulau Seribu Yuk..

Anda ingin berwisata ke Kepulauan Seribu, tetapi tidak tahu harus berangkat darimana? Mungkin Saya bisa memberi sedikit tips. Untuk mengunjungi pulau-pulau yang secara administratif masuk dalam wilayah Provinsi DKI ini, sebenarnya mudah saja.

Lanjut Baca »

Kepulauan Seribu semakin menarik untuk tujuan wisata. Jika berkunjung ke Pula Sepa, sambil berwisata di pantainya, kita juga bisa banyak belajar tentang kehidupan dan pelestarian penyu.

Imam)

Wisatawan di Pulau Sepa, Kepulauan Seribu (Foto: Imam)

Pekan ini di sebuah televisi swasta, saya melihat tayangan menarik tentang wisata pantai Pulau Sepa di Kepulauan Seribu. Di tayangan itu, Pulau Sepa bahkan disebut sebagai “Pulau Bali kecil”. Bukan karena memiliki banyak pura–rumah ibadat bagi umat Hindu—-pulau ini lalu disebut “Bali kecil”, tetapi karena fasilitasnya.

Wisatawan bisa menikmati berbagai fasilitas seperti jika berada di Bali. Selain menginap di cottage pinggir pantai, kita bisa bersenang-senang mencoba berbagai jenis olahraga air, menyelam, atau snorkeling untuk menikmati keindahan dasar laut.

Tayangan itu mengingatkan Saya saat mengunjungi pulau itu beberapa tahun lalu. Saya ingat, Saya berangkat ke pulau itu pada sebuah Sabtu yang cerah. Sebelum Saya bercerita tentang pulau itu, mungkin ada baiknya Saya ceritakan juga perjalanan menuju kesana, karena ada beberapa hal menarik selama di perjalanan.

Lanjut Baca »

Pekan ini Pakistan menggelar pemilihan presiden menyusul mundurnya Presiden Pervez Musharraf

Dimas, 2007)

Warga Lahore di depan Masjid Badshahi (Foto: Dimas, 2007)

pertengahan bulan lalu. Lagi-lagi sejarah politik negeri sahabat itu tercoreng. Rabu 3 September 2008 lalu, rombongan mobil Perdana Menteri Yusuf Raza Gilani dihujani tembakan oleh sekelompok orang.

Beruntung, ia luput dari percobaan pembunuhan karena sang PM ternyata tak berada di mobil mercedes hitam yang ditembaki. Tak heran, memang, sejarah politik Pakistan diwarnai kekerasan dan lumuran darah. Desember 2007 lalu, mantan PM Benazir Bhutto juga tewas oleh serangan bom bunuh diri. Cerita tentang Pakistan ini mengingatkan saya saat mengunjungi negara itu menjelang akhir tahun 2007.

Lanjut Baca »

Hikayat Parang Binongko

Satu lagi tulisan saya tentang Wakatobi. Yaitu soal Pulau Binongko, yang dikenal sebagai pulau para pandai besi. Meski dikenal sebagai “Pulau Tukang Besi”, kini banyak warganya yang merantau, meninggalkan pekerjaan turun-temurun itu.

——-

Teng, teng, teng, teng..

BUNYI tempaan besi dipukul berkali-kali, terdengar bersahutan. Dari kebun berbukit di belakang

Dimas)

Pandai besi di Pulau Binongko, sedang membuat parang (Foto: Dimas)

perkampungan warga, suara itu berasal. Ada sejumlah gubuk kayu di sana. Di tiap gubuk, dua orang pandai besi tampak sibuk membuat bermacam alat dari logam, dari parang yang berukuran besar sampai pisau. Satu orang menahan parang yang baru dipanaskan, seorang lagi memukulnya keras-keras.

Itulah kegiatan sehari-hari para pandai besi di sebuah desa di Kecamatan Togo Binongko, Pulau Binongko. Di antara empat pulau utama di Kepulauan Wakatobi, Pulau Binongko terletak di paling ujung tenggara. Pulau ini juga paling jauh jaraknya jika dijangkau dari Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. Dibanding tiga pulau lain, Wangi-Wangi, Kaledupa, dan Tomia, Pulau Binongko tergolong paling kurang tersentuh “modernisasi”.

Lanjut Baca »

Dimas)

Kampung Sampela, pemukiman Suku Bajo yang dibangun di tengah laut (Foto: Dimas)

Zonasi Taman Nasional Wakatobi diperbarui untuk mencegah makin susutnya area pemijahan ikan alami. Nelayan suku Bajo khawatir daerah tangkapan menyempit.

——-

DESA Mola Selatan, perkampungan suku Bajo di Pulau Wangi-Wangi, suatu siang pertengahan April 2008 lalu. Rumah La Ode Mustamin tiba-tiba dipenuhi belasan warga. Padahal sang empunya rumah, yang menjabat kepala desa, tidak sedang menggelar pertemuan.

Lanjut Baca »

The Nature Conservancy-World Wildlife Fund)

Keindahan bawah laut Wakatobi (Foto: The Nature Conservancy-World Wildlife Fund)

WAKATOBI. Kawasan kepulauan dekat Pulau Buton ini disebut-sebut sebagai “jantung karang dunia”. Di perairan itu memang muncul sebuah keajaiban alam. Sebuah gugusan pulau karang membentang sekitar 48 kilometer, dengan luas 90 ribu hektare, yang menjadikannya karang terpanjang di dunia.

Di situlah para penyelam internasional bersaksi, di dasar lautnya terdapat panorama terumbu karang yang paling cantik, penuh keanekaragaman ikan yang tak ada duanya di dunia, bahkan dibanding Karibia. Dengan snorkeling sebentar, kita dapat menemui barracuda, ikan badut, dan kuda laut.

Lanjut Baca »