Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Budaya dan Adat’ Category

Satu lagi tulisan saya tentang Wakatobi. Yaitu soal Pulau Binongko, yang dikenal sebagai pulau para pandai besi. Meski dikenal sebagai “Pulau Tukang Besi”, kini banyak warganya yang merantau, meninggalkan pekerjaan turun-temurun itu.

——-

Teng, teng, teng, teng..

BUNYI tempaan besi dipukul berkali-kali, terdengar bersahutan. Dari kebun berbukit di belakang

Dimas)

Pandai besi di Pulau Binongko, sedang membuat parang (Foto: Dimas)

perkampungan warga, suara itu berasal. Ada sejumlah gubuk kayu di sana. Di tiap gubuk, dua orang pandai besi tampak sibuk membuat bermacam alat dari logam, dari parang yang berukuran besar sampai pisau. Satu orang menahan parang yang baru dipanaskan, seorang lagi memukulnya keras-keras.

Itulah kegiatan sehari-hari para pandai besi di sebuah desa di Kecamatan Togo Binongko, Pulau Binongko. Di antara empat pulau utama di Kepulauan Wakatobi, Pulau Binongko terletak di paling ujung tenggara. Pulau ini juga paling jauh jaraknya jika dijangkau dari Kendari, ibu kota Sulawesi Tenggara. Dibanding tiga pulau lain, Wangi-Wangi, Kaledupa, dan Tomia, Pulau Binongko tergolong paling kurang tersentuh “modernisasi”.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Dimas)

Kampung Sampela, pemukiman Suku Bajo yang dibangun di tengah laut (Foto: Dimas)

Zonasi Taman Nasional Wakatobi diperbarui untuk mencegah makin susutnya area pemijahan ikan alami. Nelayan suku Bajo khawatir daerah tangkapan menyempit.

——-

DESA Mola Selatan, perkampungan suku Bajo di Pulau Wangi-Wangi, suatu siang pertengahan April 2008 lalu. Rumah La Ode Mustamin tiba-tiba dipenuhi belasan warga. Padahal sang empunya rumah, yang menjabat kepala desa, tidak sedang menggelar pertemuan.

(lebih…)

Read Full Post »